Tidak sedikit dari warga yang pernah mengalami hal tersebut, bahkan ada yang sampai harus membeli perahu baru, karena perahu yang mereka gunakan sebelumnya rusak dan tenggelam.
Dengan sifatnya yang keras dan kokoh, tongkat kayu ini juga disebut “Tunggul kayu” (Bahasa daerah perkampungan di Lingga-Red).
Kata ini juga sering digunakan para orang tua khususnya di Lingga, saat memarahi anaknya yang tidak mau menjawab saat dipanggil.
Baca Juga: Warga Lingga Masih Ada Gunakan Kayu Bakar, Rupanya Ada Pesan dari Orang Tua Zaman Dahulu, Apa Itu?
Di lokasi pantai sendiri, keberadaan tongkat kayu dapat merusak pemandangan, serta menyulitkan warga yang melakukan aktifitas seperti memasang bubu kepiting, mencari kerang atau seafood, atau ketika membawa perahu merapat ke bibir pantai.
Selain itu, patahan tongkat kayu yang hanyut, juga dapat merusak jaring ikan nelayan serta menjadi sampah berat apabila tidak segera diatasi.***

