Pernyataan akun anonim itu disebarkan di grup WhatsApp publik yang memiliki lebih dari 1.000 anggota, dengan narasi bahwa ada oknum wartawan yang dianggap merusak dan menghambat pembangunan Natuna, bahkan dikaitkan dengan rezim lama yang disebut korup.

Menanggapi hal itu, Amran menyebut penyebaran tuduhan di ruang publik digital sebagai bentuk provokasi terbuka.

“Ini bentuk provokasi nyata dan terbuka karena disampaikan dalam grup terbuka yang jumlahnya sangat besar,” ujarnya.

Ia juga mengaku prihatin atas tudingan bahwa pers menjadi penghambat pembangunan daerah.

“Saya merasa sedih ketika wartawan di Natuna disebut sebagai perusak dan penghambat pembangunan. Tuduhan itu sangat menyakitkan,” katanya.

Menurutnya, peran pers justru membantu pemerintah mempercepat pembangunan melalui fungsi kontrol sosial dan penyampaian informasi yang akurat kepada masyarakat.

“Pers bukan penghambat pembangunan. Kehadiran pers membantu pemerintah melalui kritik konstruktif, masukan, dan informasi yang benar,” tegasnya.