HARIANMEMOKEPRI.COM – Sekretaris Daerah Provinsi Kepri, Misni, menghadiri High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Provinsi Kepri Tahun 2026 di Aula Bank Indonesia Batam Center, Kamis (7/5/2026).

Dalam sambutannya, Misni menegaskan bahwa Kepri memiliki posisi strategis sebagai beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus provinsi kepulauan dengan karakteristik geografis didominasi lautan hingga 98 persen.

Wilayah ini terdiri dari 2.028 pulau, termasuk 22 pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

“Karakteristik geografis maritim ini menghadirkan tantangan besar, khususnya terkait efisiensi logistik, rantai pasok antar pulau yang rentan terhadap anomali cuaca, disparitas harga, hingga keterbatasan produk pertanian lokal,” ujar Misni.

Ia menambahkan, tantangan lain juga muncul pada aspek kelembagaan tata niaga pangan serta tekanan inflasi pada sejumlah komoditas utama.

Berdasarkan data April 2026, inflasi tahunan Kepri tercatat sebesar 3,06 persen, lebih tinggi dibandingkan nasional yang berada di angka 2,42 persen.

Sementara inflasi bulanan mencapai 0,43 persen, juga di atas rata-rata nasional sebesar 0,13 persen.

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh tingginya mobilitas masyarakat serta tantangan distribusi di wilayah kepulauan.

Kelompok pengeluaran paling berkontribusi terhadap inflasi adalah sektor transportasi sebesar 2,44 persen serta makanan, minuman, dan restoran sebesar 1,80 persen.

“Komoditas utama penyebab inflasi bulan ini antara lain tarif angkutan udara dan laut, nasi dengan lauk pauk, telepon seluler, bensin, serta ikan layang. Namun beberapa komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, dan emas perhiasan mengalami deflasi sehingga menjadi penyeimbang,” jelas Misni.

Secara spasial, Kota Batam mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,26 persen, disusul Kota Tanjungpinang sebesar 3,25 persen. Sementara Kabupaten Karimun justru mengalami deflasi sebesar minus 0,25 persen.

Meski demikian, Misni menegaskan bahwa perekonomian Kepri tetap menunjukkan kinerja yang kuat.

Pada Triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi Kepri mencapai 7,04 persen (year-on-year), tertinggi di Sumatera dan peringkat kelima nasional.

“Walaupun kontribusi Kepri terhadap PDRB Sumatera sekitar 7,30 persen, akselerasi pertumbuhan ekonomi kita merupakan yang tercepat. Ini harus terus dijaga bersama,” kata Sekda Kepri.

Ia juga menyoroti tingginya mobilitas wisatawan domestik yang mencapai 1.145.198 perjalanan pada Januari–Maret 2026, tertinggi sejak 2019. Kondisi ini turut berdampak pada peningkatan tarif transportasi udara.

Di sisi lain, kinerja ekspor Kepri ke Singapura tetap kuat dengan nilai mencapai 646,84 juta dolar AS, didominasi komoditas bahan bakar mineral, mesin listrik, dan mesin mekanik.

Akhir sambutannya, Misni berharap forum TPID dan TP2DD ini mampu memperkuat sinergi lintas sektor dalam pengendalian inflasi serta percepatan digitalisasi daerah.

“Ke depan, TPID akan terus memperkuat stabilisasi pasokan dan distribusi melalui GNPIP, sementara TP2DD harus mendorong percepatan digitalisasi untuk efisiensi ekonomi daerah,” tutup Misni.