Fokus program Harga Cabai Merah tersebut dilatarbelakangi akan inflasi masuknya cabe untuk kebutuhan masyarakat Batam yang perharinya hingga 20 Ton, sedangkan produksi petani Batam hanya dapat menggapai 35 hingga 40 ton perbulan. Ketimpangan ini menjadi alasan utama meroketnya harga dimana angka permintaan lebih banyak dari angka penawaran.
Permasalahan teknis lapangan lainya yang dialami pihaknya ialah, dimana harga ambil tengkulak yang cukup rendah, dan dalam beberapa transaksi harga dibayar di akhir oleh tengkulak menyesuaikan dengan harga pasar yang membuat ketidakpastian Harga Cabai Merah pada petani.
Baca Juga: Jaksa Penuntut Umum Nyatakan Upaya Kasasi Terhadap Putusan Majelis Hakim Kepada Dua Terdakwa
Pihaknya memandang penekanan biaya distribusi hasil panen menjadi jalan tengah agar masyarakat keluar dari belenggu.
“Seharusnya pemerintah lebih memerhatikan fasilitas distribusi dari petani ke tengkulak, disini semisal cabai di hargai 20 ribu petani sudah tak mampu,”jelas Edwin.

