HARIANMEMOKEPRI.COM — Mahasiswa PMII Tanjungpinang Bintan melakukan unjuk rasa di Kantor Gubernur Provinsi Kepri Dompak, Senin (16/2023).
Unjuk rasa mahasiswa PMII Tanjungpinang Bintan ini menurunkan puluhan mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya kepada Gubernur Kepri Ansar Ahmad.
Baca Juga: Stabilisasi Harga Serta Penuhi Kebutuhan Pokok, DP3 Tanjungpinang Gelar Gerakan Pangan Murah
Pada aksi unjuk rasa Mahasiswa PMII Tanjungpinang Bintan tersebut aparat keamanan baik Polisi dan Satpol PP telah berjaga jaga di Kantor Gubernur Kepri.
Mahasiswa PMII Tanjungpinang Bintan mempertanyakan pembangunan Fly Over Basuki Rahmat dengan menggunakan anggaran Rp60 milyar rupiah dengan alasan mengurai kemacetan.
Baca Juga: Generasi Pesta Kita Mempercayakan Erick Thohir Sebagai Inspirasi Dalam Membangun Bangsa
Namun para Mahasiswa PMII Tanjungpinang Bintan keberatan dibangunnya Fly Over tersebut semestinya Fly Over dibangun pada lokasi sering terjadinya kemacetan. Akan tetapi pembangunan Fly Over Basuki Rahmat tidaklah maksimal
Para Mahasiswa PMII Tanjungpinang Bintan ini melihat pembangunan Fly Over Basuki Rahmat belum genap setahun telah terjadi keretakan.
Ridho Al Waliyu selaku koordinator lapangan menyampaikan ada dua isu yang dibawa oleh Mahasiswa PMII Tanjungpinang Bintan pertama masalah pembangunan Fly Over yang katanya urgensi untuk solusi kemacetan lalu lintas.
“Kami memperhatikan tidak ada kemacetan di daerah tersebut (Basuki Rahmat_red). Kalau berbicara kemacetan, Batu 9, Batu 6 dan batu 7 itu macet,” jelas Ridho.
Dirinya melanjutkan kalau ini menjadi solusi karena permasalahan kecelakaan, mengingat masa lalu di Km 6 tepatnya tugu adipura pernah mengalami kecelakaan tragis.
“Kenapa tidak disitu, pak Ansar Ahmad itu mengatakan bahwasannya dua alasan fly over itu dibangun salah satunya sebagai tempat wisata. Maksud saya sejak kapan fly over dijadikan destinasi wisata jika memang dijadikan destinasi pariwisata kenapa dalam waktu satu tahun sudah memiliki kerusakan,” lanjutnya.
Baca Juga: Cabuli Ponakan Sendiri Serta Kabur Luar Kota, Pelaku Jadi Buronan Polisi
Sementara isu kedua yang disampaikan Mahasiswa PMII Tanjungpinang Bintan, terkait beasiswa Baznas dimana turunkan dua kali namun tidak sesuai dengan anggarannya.
“Anggaran pertama Rp800 juta dan anggaran kedua Rp200 juta lebih. Itu yang turun harusnya Rp5 juta per orang mahasiswa dengan jumlah penerima 150 hingga 160 orang, tapi yang sampai ke mahasiswa Rp2 juta. Nah kami pertanyakan itu kemana sisa uangnya,” ungkap Ridho.
Baca Juga: STISIPOL Gelar Turnamen E Sport Tiga Hari Berturut – Turut, Ajang Mencari Bibit Atlet
Ia menegaskan pihaknya memiliki rekan mahasiswa yang menjadi korban daripada penerima beasiswa ini. Selain itu mahasiswa juga belum mendapatkan jawaban dari Baznas itu sendiri.
“Kami sudah mempertanyakan cuma belum ada balasan atau di gubris dari pihak Baznas sendiri,”pungkasnya.

