China Akhirnya Menyerah dan Izinkan Vaksin COVID Impor

Avatar of Aida Syafitri

- Redaktur

Sabtu, 24 Desember 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi vaksin COVID-19 (Foto: Pradita Utama/detikcom)

Ilustrasi vaksin COVID-19 (Foto: Pradita Utama/detikcom)

HMK, KESEHATAN — Diungkapkan juru bicara (jubir) Pemerintah Jerman pada Rabu (21/2022), China dikabarkan akan mendapatkan kiriman stok vaksin Jerman BioNTech yang ditujukan untuk ekspatriat Jerman.

Dikutip dari Reuters, tidak ada detail mengenai tanggal pengiriman dan jumlah vaksin yang didistribusikan.

Namun diperkirakan, jumlah vaksin yang dikirim berkisar 20.000 dosis. Di sisi lain, Pemerintah Jerman memperkenankan orang asing selain warga Jerman untuk mengakses gambar jika dibutuhkan.

“Kami sedang mengerjakan kemungkinan bahwa selain orang Jerman, orang asing lainnya juga dapat divaksinasi dengan BioNTech,” kata juru bicara itu kepada wartawan di Berlin.

Menurut salah satu sumber, stok vaksin akan dikirimkan perusahaan Jerman di China serta lokasi kedutaan.

Di samping itu, vaksinasi khusus anak-anak di bawah 12 tahun menyusul di kemudian hari.

Warga negara selain Jerman saat ini belum diikutsertakan dalam vaksin ini. Namun sumber tersebut mengatakan, saat ini ada pembicaraan di negara-negara di Uni Eropa (UE) terkait distribusi vaksin ke warga negara lainnya.

China perlu menyetujui perluasan akses di luar warga negara Jerman, kata sumber itu.

Menurut jubir pemerintah Jerman, warga China di Eropa dapat divaksinasi dengan SinoVac milik China sebagai imbalannya.

Komentar itu muncul setelah laporan awal bulan ini bahwa Kementerian Kesehatan Jerman telah memberikan izin yang mengizinkan impor vaksin COVID-19 Sinovac China ke Jerman untuk diberikan kepada warga negara China di negara itu.

SinoVac belum disetujui untuk digunakan oleh regulator obat Eropa, tetapi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan lampu hijau untuk penggunaannya.

Sejauh ini, Beijing bersikeras hanya menggunakan vaksin yang diproduksi di dalam negeri.

Produksi vaksin tersebut tidak didasarkan pada teknologi mRNA Barat tetapi pada teknologi yang lebih tradisional.

Pengiriman itu dilakukan di tengah pembongkaran rezim lockdown ‘Zero-COVID’ yang ketat oleh Beijing, yang telah menyebabkan lonjakan kasus yang membuat sistem kesehatan yang rapuh tidak siap.

Para ahli memperkirakan bahwa negara berpenduduk 1,4 miliar orang itu dapat menghadapi lebih dari satu juta kematian akibat COVID-19 pada 2023.

Mengizinkan ekspatriat Jerman mengakses vaksin Barat adalah isyarat besar bagi Berlin, yang mencerminkan upaya Beijing untuk memperkuat hubungan dengan ekonomi terbesar UE setelah bertahun-tahun ketegangan perdagangan dan iklim antara kedua negara.

Saham BioNTech naik karena berita pengiriman, ditutup 2,3% lebih tinggi di Frankfurt. Sementara saham Pfizer di New York, naik 1,25% pada perdagangan pagi di New York.

Hingga berita ini ditulis, BioNTech tidak segera tersedia untuk mengomentari situasi pada hari Rabu (21/2023).

Warga China Tidak Menerima Suntikan Vaksin Barat

China memproduksi total sembilan vaksin lokal, yang paling banyak dari negara manapun di penjuru negeri.

Namun, vaksin produksi China tidak ada yang diperbaharui untuk mengatasi Omicron seperti teknologi yang dimiliki Pfizer BioNTech serta Moderna (mRNA) yang diciptakan sebagai booster dan digunakan di negara-negara maju.

Dua dosis vaksin yang dikembangkan oleh Pfizer-BioNTech dan Moderna adalah yang paling banyak digunakan di seluruh dunia.

Di awal pandemi, BioNTech membuat kesepakatan dengan Shanghai Fosun Pharmaceutical dengan maksud untuk memasok suntikan ke Tiongkok Raya

Sementara bidikan tersedia di Hong Kong, Makau, dan Taiwan, tinjauan peraturan untuk China belum selesai.

BioNTech mengatakan bahwa keputusan tergantung pada regulator China dan belum memberikan alasan penundaan tersebut.

Kebijakan ‘Zero-COVID’ di China dan tindakan lockdown telah menjaga tingkat kematian dan penyebaran infeksi minimal selama beberapa bulan terakhir.

Namun, kebijakan ini menyebabkan gangguan besar baik di dalam negeri maupun dalam rantai perdagangan dan pasokan global.

China melaporkan jumlah kematian dari awal pandemi hingga Selasa (20/2022), sebanyak 5.241.

Hal ini dikarenakan Komisi Kesehatan Nasional China mendefinisikan kematian yang disebabkan oleh COVID-19 apabila pasien tersebut terkena pneumonia atau gagal napas.(detikcom)

Editor : Aida


 

 

Berita Terkait

Ungkap Mafia Tanah Rp16,8 Miliar, Kapolresta Tanjungpinang Terima Penghargaan Pin Emas
Danrem 151 Binaiya Ajak Masyarakat Maluku Perkuat Sinergi Jaga Keamanan
Ombudsman Dorong DPRD Tanimbar Percepat Perbaikan Layanan Publik dan Sertifikasi Sekolah
Presiden Prabowo Lantik Dua Menteri Kabinet Merah Putih, Erick Thohir Menjabat Menpora
Wawasan Hukum Nusantara Desak Presiden Ganti Wamenaker Usai OTT KPK
Warga Mandiri Lapas Cipinang Hadirkan Ruang Belajar dan Berkarya bagi Warga Binaan
Batik Karya Warga Binaan Lapas Cipinang Laris di IPPAFest 2025, Menteri Agus Andrianto Ikut Borong
PORSENAP Lapas Cipinang Meriahkan HUT ke-80 RI

Berita Terkait

Rabu, 3 Desember 2025 - 18:35 WIB

Ungkap Mafia Tanah Rp16,8 Miliar, Kapolresta Tanjungpinang Terima Penghargaan Pin Emas

Sabtu, 8 November 2025 - 13:44 WIB

Danrem 151 Binaiya Ajak Masyarakat Maluku Perkuat Sinergi Jaga Keamanan

Sabtu, 8 November 2025 - 13:33 WIB

Ombudsman Dorong DPRD Tanimbar Percepat Perbaikan Layanan Publik dan Sertifikasi Sekolah

Rabu, 17 September 2025 - 18:46 WIB

Presiden Prabowo Lantik Dua Menteri Kabinet Merah Putih, Erick Thohir Menjabat Menpora

Rabu, 27 Agustus 2025 - 16:52 WIB

Wawasan Hukum Nusantara Desak Presiden Ganti Wamenaker Usai OTT KPK

Berita Terbaru