HMK, LINGGA — Semangat keberagaman budaya kembali mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-37 Desa Transmigrasi Kerandin, Kecamatan Lingga Timur, Kabupaten Lingga, pada Jumat, 12 Desember 2025.
Di tengah dominasi adat Melayu, Paguyuban Turonggo Kencono tampil membawakan kesenian tradisional Jawa. Kehadiran mereka menjadi simbol persatuan dan harmonisasi antar suku di Negeri Bunda Tanah Melayu.
Paguyuban Turonggo Kencono, yang diketuai oleh Sukatman (70), warga SP 1 Desa Kerandin, telah aktif selama kurang lebih lima tahun. Keberadaannya diminati oleh masyarakat lintas usia dan latar belakang, mulai dari anak-anak hingga orang tua, menunjukkan bahwa tradisi dari berbagai suku dapat tumbuh berdampingan dan saling memperkaya di Kabupaten Lingga.
Paguyuban ini tidak sekadar melestarikan budaya leluhur, tetapi juga membawa harapan besar agar kesenian Jawa dapat berkembang dan diterima sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah di tanah Melayu.
Silaturahmi Akbar dan Dukungan Kemajuan Daerah
Ketua Koordinator Lapangan (Korlap) Paguyuban Turonggo Kencono, Suryadi, menegaskan bahwa kehadiran paguyuban ini bertujuan mempererat silaturahmi dan memperkuat persatuan masyarakat, bukan menonjolkan perbedaan.
“Kami hadir bukan sekadar ingin menunjukkan bahwa di Lingga ada masyarakat Jawa. Lebih dari itu, ini adalah bentuk silaturahmi akbar. Lingga bisa maju dengan keberagaman budaya dari berbagai suku yang hidup rukun dan saling mendukung,” ujar Suryadi kepada harianmemokepri.com, Minggu (14/12/2025).
Menurutnya, Paguyuban Turonggo Kencono juga aktif mendukung kegiatan-kegiatan daerah, terbukti dengan partisipasi mereka dalam perayaan HUT Kabupaten Lingga selama dua tahun berturut-turut.
“Kami ingin memperkenalkan kepada masyarakat dan pemerintah bahwa kami hadir di Lingga sebagai bagian dari pendukung kemajuan daerah dan pemerintahan,” tambahnya.
Potensi dan Harapan Dukungan Pemerintah
Dengan dukungan masyarakat suku Jawa yang tersebar di berbagai desa di wilayah Lingga, Paguyuban Turonggo Kencono diyakini memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan dikenal lebih luas di tingkat lokal maupun regional.
Namun, keberlanjutan paguyuban ini juga memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah. Dukungan tersebut dapat berupa pembinaan, fasilitasi kegiatan budaya, serta penyediaan sarana dan prasarana agar kesenian tradisional yang mereka usung dapat terorganisir secara lebih profesional dan berkelanjutan.
Keberadaan Paguyuban Turonggo Kencono adalah cerminan bahwa Kabupaten Lingga bukan hanya kaya akan budaya Melayu, tetapi juga menjadi rumah yang ramah bagi beragam budaya nusantara yang tumbuh, hidup, dan berkembang bersama masyarakatnya. (***)

