“Untuk luka bakar ada yang mulai membaik, tapi ada juga yang sudah infeksi, termasuk luka di bagian sensitif yang belum sembuh. Dari rumah sakit menyarankan rujuk ke Batam karena di sini belum ada dokter spesialis bedah kulit,” jelas Kadri.
Kadri mengaku kesulitan membiayai pengobatan anaknya karena hanya bekerja sebagai buruh harian lepas. Meski demikian, ia bersyukur banyak pihak yang telah membantu keluarganya.
“Saya sangat berterima kasih kepada bidan di kampung dan juga guru sekolah Mustakim yang terus mendampingi kami. Kalau hanya mengandalkan saya sendiri, rasanya sangat berat,” ungkapnya.
Ia berharap anaknya dapat segera pulih dan kembali menjalani aktivitas seperti biasa.
“Kami hanya berharap anak kami bisa sembuh, bisa berjalan lagi, dan kembali sekolah seperti dulu,” katanya lirih.
Sementara itu, guru Mustakim, Lina, mengatakan pihak sekolah terus memberikan dukungan moral kepada keluarga agar tetap kuat menghadapi cobaan tersebut.
“Mustakim adalah siswa kami di kelas 2 SD. Kami sangat berharap ia bisa segera pulih agar nantinya dapat mengikuti ujian sekolah pada bulan Juni,” ujar Lina.

