Sebagian dana digunakan untuk membayar sewa lokasi DAM sebesar Rp400 ribu per bulan, sedangkan sisanya dipergunakan untuk biaya perawatan dan pemeliharaan fasilitas.

Bahtiar juga menyoroti kondisi sumber air yang dinilai semakin menurun dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, sejak adanya aktivitas pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit oleh PT CSA di wilayah sekitar, debit air di DAM cenderung lebih cepat berkurang saat musim kemarau.

Ia mengaku tidak memiliki data teknis yang membuktikan hubungan langsung aktivitas perkebunan dengan menurunnya debit air.

Namun berdasarkan pengalaman masyarakat, kondisi sumber air saat ini jauh berbeda dibandingkan sebelumnya.

“Dulu air di DAM bisa bertahan sampai dua minggu meskipun tidak hujan. Sekarang belum sampai dua minggu, airnya sudah mulai mengering. Ini yang menjadi kekhawatiran masyarakat,” ungkapnya.

Meski pipa yang sempat rusak akibat aktivitas alat berat perusahaan telah diperbaiki dan Pemerintah Kabupaten Lingga juga telah membantu pengadaan pipa baru, persoalan utama terkait ketersediaan air bersih dinilai belum terselesaikan.