Dengan jumlah penduduk lebih dari 200 kepala keluarga, penggunaan mesin pompa tanpa pengaturan yang jelas dinilai menyebabkan distribusi air tidak merata.
Akibatnya, warga tidak memiliki mesin pompa sering kali hanya memperoleh sedikit pasokan air, bahkan ada yang sama sekali tidak kebagian ketika debit air menurun.
“Yang mampu membeli mesin dan memasang pipa langsung ke rumah tentu lebih mudah mendapatkan air. Sementara masyarakat kecil yang tidak memiliki kemampuan seperti itu sering kali tidak kebagian air secara maksimal,” kata Bahtiar.
Kondisi itu membuat sebagian warga terpaksa membeli air bersih dari desa lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Untuk kebutuhan minum dan memasak, warga harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp2.500 per jeriken.
Menurut Bahtiar, masyarakat pernah mencoba mengatasi persoalan tersebut dengan melarang penggunaan mesin pompa.
Namun kebijakan itu justru memicu konflik antarwarga sehingga tidak dapat diterapkan secara efektif.
“Kami pernah melarang penggunaan mesin, tetapi yang muncul justru persoalan antarwarga. Karena itu sampai sekarang belum ada solusi yang benar-benar bisa diterima semua pihak,” ujarnya.

