HARIANMEMOKEPRI.COM — Musim Angin Utara menjadi momok bagi sebagian warga khususnya yang tinggal di wilayah pesisir pantai juga Nelayan Lingga.
Keadaan cuaca yang seolah mengamuk dengan pasang air laut cukup tinggi, hujan deras berangin, dan gelombang besar, dapat mengakibatkan bangunan rumah, perahu, pelantar atau pelabuhan menjadi rusak serta menghambat aktifitas para Nelayan Lingga.
Sehingga tak jarang bagi sebagian warga khususnya di Lingga yang menghadapi kondisi musim ini akan memilih bekerja bangunan, atau menjadi petani musiman untuk mencari penghasilan termasuk Nelayan Lingga.
Kini musim angin utara hampir selesai dan cuaca perlahan membaik, banyak dari warga Nelayan Lingga yang mulai memasang rencana menghadapi musim angin timur, yang biasa musim ini digunakan mencari cumi atau sotong.
Suatu keadaan yang cukup melegakan para nelayan apabila setelah menghadapi musim angin utara dapat menimba hasil yang memuaskan, ditambah tidak lama lagi akan menghadapi bulan suci ramadhan dan hari raya idul Fitri yang tentunya sangat membutuhkan uang lebih, dibanding hari-hari biasanya.
Untuk itu biasanya para nelayan yang memiliki perahu akan berbondong-bondong pergi mencari hasil baik ke laut terdekat atau menyebrang lebih jauh, bahkan tidak pulang sampai satu minggu atau satu bulan.
Baca Juga: Konser Dewa 19 Berhasil Hibur Penonton, Namun di Medsos Banyak Cuitan Kekecewaan, Ini Faktanya
Sebuah pengharapan yang cukup besar melalui melaut bagi para pekerja nelayan yang ditentukan oleh sedikit banyaknya hasil atau Rizki yang didapatkan, yang jika malas-malasan maka dapur tak berasap seperti salah satu kalimat para tetua Melayu di Lingga.***

