Perbaikan jalan dilakukan secara gotong royong dan swadaya, dengan metode pemerataan tanah di titik-titik rawan, kemudian dilanjutkan dengan semenisasi selebar kurang lebih 70 sentimeter agar jalan dapat dilalui kendaraan roda dua.

“Kegiatan ini terbuka untuk seluruh warga, tanpa paksaan. Siapa pun yang ingin membantu dipersilakan,” jelas Rio.

Meski bersifat sukarela bagi masyarakat umum, Rio menegaskan unsur pemerintahan desa diwajibkan terlibat penuh sebagai penggerak utama kegiatan.

“Seluruh staf dan kaur desa, BPD, kepala dusun 1 dan 2, RT/RW, serta LPM wajib siap dan hadir sebagai motor penggerak gotong royong,” tegasnya.

Pada tahap awal, perbaikan difokuskan pada tiga titik prioritas yang selama ini menjadi jalur paling sulit dilalui.

Titik pertama berada di jalan bukit sepanjang sekitar 40 meter, titik kedua sekitar 50 meter, dan titik ketiga di kawasan bukit berbatu sepanjang kurang lebih 100 meter.

“Kami menyadari bahan yang tersedia pasti tidak mencukupi. Karena itu, sebisa mungkin jalan dibuat agar kendaraan tetap bisa lewat. Untuk jalan datar yang berlumpur, bisa menggunakan alternatif papan,” ungkapnya.