“Seluruh staf dan kaur desa, BPD, kepala dusun 1 dan 2, RT/RW, serta LPM wajib siap dan hadir sebagai motor penggerak gotong royong,” tegasnya.
Pada tahap awal, perbaikan difokuskan pada tiga titik prioritas yang selama ini menjadi jalur paling sulit dilalui.
Titik pertama berada di jalan bukit sepanjang sekitar 40 meter, titik kedua sekitar 50 meter, dan titik ketiga di kawasan bukit berbatu sepanjang kurang lebih 100 meter.
“Kami menyadari bahan yang tersedia pasti tidak mencukupi. Karena itu, sebisa mungkin jalan dibuat agar kendaraan tetap bisa lewat. Untuk jalan datar yang berlumpur, bisa menggunakan alternatif papan,” ungkapnya.
Hingga saat ini, dana swadaya yang berhasil dihimpun dari masyarakat mencapai sekitar Rp6,1 juta. Seluruh dana tersebut digunakan untuk pengadaan material perbaikan jalan.
Lebih lanjut, Rio kembali menyampaikan harapan masyarakat kepada Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau agar kondisi jalan menuju Desa Rantau Panjang mendapat perhatian serius.
Desa Rantau Panjang saat ini menjadi perwakilan Kepulauan Riau di tingkat nasional dalam program konvergensi penanganan stunting, dan masuk dalam 15 desa berkinerja baik secara nasional.
“Harapan kami, prestasi ini juga diiringi dengan perhatian terhadap akses jalan,” ujarnya.
Menurutnya, jalan merupakan akses layanan dasar yang paling efektif dan paling murah, terutama untuk kebutuhan kesehatan masyarakat.
“Realisasi perbaikan jalan ini menjadi doa dan harapan bersama, khususnya bagi ibu hamil, warga yang sakit, pedagang, hingga buruh bangunan yang setiap hari harus bekerja ke Daik Lingga demi menghidupi keluarga,” pungkas Rio.

