Musisi lokal menyambut gembira perubahan sikap mental penonton ini karena mereka akhirnya bisa merasakan kembali gelombang energi jujur yang terpancar langsung dari barisan terdepan arena.
Keberhasilan konsep ini membuktikan bahwa nilai sebuah karya seni panggung terletak pada momen emosional tak tergantikan yang diresapi bersama dalam satu ruang dan waktu.
Pada akhirnya, mematikan layar ponsel saat konser bukan sekadar mematuhi aturan promotor, melainkan sebuah penghormatan tertinggi terhadap keajaiban musik yang sedang tercipta.
Apakah kenangan terbaik sebuah pertunjukan memang seharusnya tersimpan abadi dalam benak kita atau sekadar menjadi berkas digital yang lekas terlupakan di galeri gawai?
Ketika kita berani melepaskan genggaman dari dunia maya sejenak, denyut kehidupan yang sesungguhnya di panggung hiburan akan terasa jauh lebih hidup dan membekas di sanubari.
Kebijakan berani ini menjadi cermin bagi kita semua tentang pentingnya menikmati hidup secara utuh di masa kini tanpa selalu memikirkan validasi dari dunia digital.

