Suara petikan gitar akustik yang bergema pelan di dalam ruangan museum berarsitektur kolonial itu mendadak menghentikan riuh rendah percakapan para pengunjung yang hadir malam itu.

Ratusan penonton duduk melingkar di atas karpet kain tanpa pembatas jarak, menciptakan suasana hangat yang jarang sekali ditemukan dalam pergelaran musik berskala besar di stadion.

Fenomena pertunjukan musik skala kecil ini secara perlahan mulai menggeser dominasi festival besar yang kerap menguras energi serta dompet para pencinta seni di ibu kota.

Banyak orang kini lebih memilih merayakan akhir pekan dengan mendengarkan panggung intim yang menawarkan interaksi emosional secara langsung antara musisi dan pendengarnya tanpa sekat.

Aturan paling menarik dari pertunjukan ini adalah kewajiban seluruh penonton untuk menyimpan ponsel pintar mereka di dalam kantong kain khusus selama acara berlangsung.

Kebijakan tanpa gawai tersebut ternyata berhasil memaksa mata dan telinga kita untuk fokus sepenuhnya pada nada demi nada yang tercipta di atas panggung sederhana.