Selain itu, industri kapal juga dinilai sensitif terhadap fluktuasi harga energi dan dinamika geopolitik dunia.

Sementara itu, pada sektor kokoa/coklat, aktivitas produksi masih berjalan normal. Namun, realisasi ekspor mengalami perlambatan akibat meningkatnya biaya bahan baku dan logistik, serta sikap hati-hati pasar global.

“Data menunjukkan bahwa koreksi ekspor Batam tidak bersifat menyeluruh, tetapi spesifik pada sektor tertentu. Karena itu, respons yang kami siapkan juga harus presisi, dengan memahami sumber tekanan secara langsung di lapangan,” ujar Fary.

BP Batam menegaskan akan melakukan langkah intervensi terarah melalui penguatan komunikasi dengan dunia usaha, percepatan penanganan hambatan logistik dan biaya, serta koordinasi lintas instansi guna merespons faktor eksternal yang memengaruhi kinerja ekspor.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga daya tahan sektor yang tengah mengalami tekanan, sekaligus memperkuat sektor lain yang masih tumbuh sebagai penopang utama ekspor Batam.