Ia menyebut serangan semut dan hama sebagai salah satu ancaman karena dapat merusak bunga dan buah yang baru muncul. Biaya perawatan—mulai dari pupuk hingga pestisida—harus terus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
“Kendala di awal itu biaya perawatan, terutama pupuk dan obat semut yang harganya lumayan tinggi,” katanya.
Dapat Dukungan dari Kelompok Tani
Untuk mengatasi keterbatasan, Sunardi bergabung dengan kelompok tani. Melalui kelompok ini, ia menerima dukungan serta bantuan dari dinas terkait. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu terutama pada fase awal pertumbuhan yang membutuhkan perawatan intensif.
Beralih dari Cengkih demi Pendapatan Lebih Stabil
Sebelumnya, Sunardi merupakan petani cengkih yang hanya panen satu kali dalam setahun. Menurutnya, pola tersebut kurang stabil dari sisi pendapatan.
Sebaliknya, kopi memiliki sistem panen bertahap karena buah tidak matang bersamaan sehingga dapat dipetik secara berkelanjutan saat musim panen.
“Kalau cengkih panennya setahun sekali. Kopi bisa dipetik bertahap, jadi hasilnya bisa lebih rutin,” jelasnya.
Analisis Pasar: Peluang Besar karena Tidak Ada Produksi Lokal
Belum adanya produksi kopi lokal membuka peluang ekonomi besar bagi petani Anambas. Selama ini, pasokan untuk masyarakat dan pelaku usaha masih bergantung pada kiriman dari luar daerah.

