Harian Memo Kepri | Anambas —Hidup di daerah Kepulauan yang dikelilingi lautan dianggap sebagai berkah bagi Dadang yang harus menafkahi 6 anaknya.
Dadang (57) warga Sukabumi ini mengaku memilih merantau ke Kepulauan Anambas karena melihat peluang mata pencaharian yang memungkinkan.Sebelum pindah ke Anambas, Dadang menetap di Kabupaten Natuna selama 17 tahun.
Tak lama setelah itu Dadang memutuskan untuk mencoba peruntungan di Kepulauan Anambas, dan kini Dadang telah menetap di Anambas hampir 10 tahun lebih.
Dadang (57) yang harus menghidupi istri dan ke-6 anaknya harus memutar otak bagaimana agar bisa bertahan hidup di rantau orang.
Sebab di Kepulauan Anambas harga sembako bisa dikatakan cukup mahal bagi masyarakat yang baru menetap di Kepulauan Anambas.
Akhirnya Dadang memutuskan untuk bercocok tanam.
Dadang tinggal di Tanjung Momong, tak jauh dari tempat ia memecahkan batu.
Tak hanya itu ia juga menanam sayuran seperti sawi, kacang panjang, timun, dan kangkung.
Tak hanya itu Dadang juga memelihara kambing. Kebetulan masyarakat Kepulauan Anambas jarang sekali ada yang beternak kambing.
“Saya di sini bercocok tanam, saya tanam sayur-sayuran, nanti dijual kadang diletakkan di warung, cuma karena kemarau saya apes, semua tanaman mati dan rugi,” tutur Dadang.
Sayuran yang ia tanam beberapa bulan lalu layu semua sebab kemarau berkepanjangan dan air sudah didapatkan, semua tanaman sayur Dadang ludes tanpa membuahkan hasil.Namun, Dadang tak berkecil hati.
Atas kebaikan Bupati Abdul Haris, Dadang dipekerjakan untuk mengurus lahan seluas 7 hektare, Dadang dipercaya memecahkan batu yang berukuran besar untuk di pecah menjadi beberapa bagian.
Dadang hanya bekerja seorang diri. Ukuran batu yang ia pecah pun bermacam-macam.
Ada yang berukuran sedang dan ada yang sangat kecil.
Nantinya batu ini akan dibeli warga yang akan membuat pondasi rumah dan proyek juga.
“Ini gunanya untuk proyek dan untuk pribadi misalnya ada warga yang mau beli juga bisa,” ucap Dadang.
Biasanya batu yang Dadang pecahkan seorang diri, bisa ia selesaikan 3 kubik dalam sehari.Dadang pun meceritakan proses dari batu itu dipecahkan.
Sebelumnya batu akan dibakar terlebih dahulu agar mudah dipecahkan, kemudian barulah batu dipilah sesuai kebutuhan.Begitulah Dadang mendeskripsikan proses pengerjaan memecah batu.
Dadang yang sering menggunakan topi dan baju tampak tetap semangat meski harus bekerja dari pagi hingga menjelang maghrib.
Sebelum memecahkan batu Dadang biasanya mengurus ternak kambingnya terlebih dahulu.
Barulah sekitar tengah hari ia mulai memecahkan batu seorang diri.
Ia begitu bersyukur, dengan pekerjaan nya seperti ini, ke-6 anaknya sudah menikah dan beberapa diantaranya ada yang sudah bekerja menjadi PPT di Kantor Bupati.
“Yang penting anak saya sudah sukses, udah punya keluarga juga, saya tetap kerja karena masih kuat walaupun anak-anak kadang kirim uang juga untuk saya dan istri, selagi kuat lebih baik dimanfaatkan untuk kerja,” ujar Dadang.
sumber | dok. | tribunbatam.id

