HARIANMEMOKEPRI.COM – Festival Penyengat Heritage 2026 berlangsung meriah di kawasan Pantai Balai Adat Pulau Penyengat, Sabtu (20/6/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Regenerative Lifestyle Tourism” ini menjadi ajang pelestarian budaya Melayu sekaligus promosi wisata sejarah dan budaya Kepulauan Riau.
Salah satu agenda paling menyita perhatian pengunjung adalah perlombaan jong digelar mulai dari babak penyisihan hingga partai final.
Festival Penyengat Heritage yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau tersebut diikuti ratusan peserta dari dalam dan luar negeri.
Sebanyak 200 jong turut ambil bagian dalam perlombaan yang diikuti oleh 55 klub.
Dari jumlah tersebut, 51 klub berasal dari berbagai daerah di Indonesia, sementara empat klub lainnya berasal dari mancanegara, yakni tiga klub dari Malaysia dan satu klub dari Singapura.
Selain lomba jong, suasana festival semakin semarak dengan digelarnya lomba gasing di pelataran Balai Adat Pulau Penyengat.
Beragam pertunjukan seni budaya turut memikat perhatian pengunjung, termasuk penampilan tari makyong menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Penyengat Heritage 2026.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan menjadi agenda budaya unggulan tidak hanya menjaga kelestarian warisan Melayu, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah.
“Pulau yang kecil ini banyak memberikan peran. Itu tidak boleh dilupakan. Maka event-event ini akan terus kita kembangkan. Setiap event mesti ada evaluasi agar kegiatan ini semakin menarik untuk dinikmati masyarakat dan wisatawan,” ujar Ansar.
Menurutnya, Pulau Penyengat memiliki nilai sejarah yang sangat penting dalam perkembangan budaya dan peradaban Melayu.
Karena itu, berbagai kegiatan budaya akan terus didorong sebagai upaya menjaga warisan leluhur sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan.
Sementara itu, Koordinator Wisatawan Malaysia dari Balai Heritage Centre, Najwa Shahab, mengaku senang dapat mengikuti Penyengat Heritage 2026.
Ia menyebut kunjungannya ke Pulau Penyengat juga bertujuan untuk memperdalam kajian sejarah mengenai Engku Putri Hamidah dan para raja terdahulu di kawasan Melayu.
“Sebenarnya hasrat kami ingin mengkaji lebih dalam mengenai sejarah Engku Putri Hamidah serta raja-raja terdahulu. Saya merupakan dosen di Heritage Centre dan di sana banyak galeri yang menyimpan bahan-bahan sejarah,” katanya.
Najwa berharap Pulau Penyengat semakin dikenal masyarakat internasional dan menjadi destinasi favorit wisatawan dari negara-negara serumpun maupun mancanegara.
“Harapan saya lebih ramai orang dari Singapura, Malaysia, China, India datang ke sini untuk mengenali sejarah awal mula Melayu di kawasan Riau. Kita semua adalah serumpun,” ujarnya.
Melalui Penyengat Heritage 2026, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berharap pelestarian budaya maritim dan warisan Melayu dapat terus terjaga, sekaligus memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai salah satu ikon wisata sejarah dan budaya di Indonesia.

