“Melalui monumen bahasa dan museum yang sedang dibangun, kita ingin menjadikannya magnet baru bagi wisatawan,” jelas Ansar.
Ia menambahkan, kerja sama promosi dengan berbagai pihak, termasuk negara sahabat seperti Amerika Serikat, menunjukkan bahwa dunia tertarik dengan eksistensi budaya Melayu, terutama Pulau Penyengat sebagai pusat sejarah literasi Melayu.
Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) diharapkan menjadi agenda tahunan dan tradisi baru bagi Kepulauan Riau sebagai negeri di selatan jazirah Melayu yang terus menjaga semangat “takkan Melayu hilang di bumi”.

