“Gunung Bintan adalah negeri para Laksamana. Dari sinilah Hang Tuah menapakkan langkahnya dan mengibarkan kebesaran Melayu. Dari Bintan pula muncul nama Laksamana Koja Hasan, Hang Nadim, Tun Abdul Jamil, hingga Megat Seri Rama,” ungkap Yusril dalam sambutannya.
Ia menambahkan, FSIGB bukan sekadar panggung pembacaan puisi, melainkan laboratorium kemanusiaan yang menjadi wadah bagi kebebasan berekspresi dan menggali nilai-nilai kemanusiaan melalui sastra.
“Festival ini merupakan keputusan yang tepat dan strategis bagi Kepulauan Riau untuk terus digelar setiap tahun. Dari manuskrip dan tradisi lisan, kita melihat akar kuat peradaban Melayu yang pernah berjaya di wilayah ini,” ujar Yusril.
Sementara itu, Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad menyampaikan bahwa pelestarian budaya dan sastra harus terus dilakukan sebagai bagian dari pengembangan pariwisata daerah.
Kepri termasuk tiga besar destinasi wisata mancanegara di Indonesia. Karena itu, budaya harus menjadi segmen penting dalam mendukung sektor pariwisata.

