Aroma sangrai biji kopi arabika yang menyeruak di sebuah sudut kedai kawasan Senopati siang itu mendadak terasa hambar ketika hampir semua pengunjung mengenakan kacamata berbingkai tebal tanpa saling menyapa.

Layar transparan berteknologi komputasi spasial yang menempel tepat di depan mata mereka seolah membangun tembok tak kasatmata yang memisahkan percakapan hangat dari ruang publik yang dahulu penuh gelak tawa.

Perangkat sandang pintar yang meluncur deras sejak awal tahun ini telah menggeser fungsi telepon genggam menjadi sekadar alat penyimpan daya tambahan di dalam tas kerja harian warga metropolitan.

Banyak pekerja kreatif kini memilih menatap papan ketik virtual yang melayang di udara sambil sesekali menyeruput cangkir kopi dingin mereka tanpa perlu menyentuh layar fisik sama sekali sepanjang hari.

Kemudahan mengakses puluhan dokumen pekerjaan sekaligus dalam bidang pandang tiga dimensi memang menawarkan efisiensi kerja yang belum pernah terbayangkan oleh generasi pekerja kantoran pada dekade sebelumnya.