Dilanjutkan dengan penguatan inovasi dan ekonomi pada 2027, kolaborasi lintas sektor pada 2028, kemandirian ekonomi di 2029, dan puncaknya pada 2030 menuju kota maju dan tangguh berbasis budaya.

Tahun 2025 diproyeksikan menjadi tahun penuh tantangan karena hampir semua daerah mengalami defisit anggaran. Tanjungpinang sendiri menghadapi defisit sekitar Rp280 miliar.

“Kondisi ini menuntut kita untuk berpikir kreatif dan bekerja lebih keras. Perencanaan yang matang adalah setengah dari keberhasilan, sisanya adalah keberanian,” tegasnya.

Lis juga mengingatkan seluruh OPD untuk segera menindaklanjuti hasil Musrenbang ke dalam dokumen Renstra, RKPD, dan rencana kerja masing-masing, dengan perhitungan pagu indikatif yang cermat.

“Inovasi dan improvisasi harus terus dilakukan. Jangan sampai keterbatasan anggaran memadamkan semangat kita untuk terus membangun,” pungkas Lis.

Musrenbang RPJMD 2025–2029 secara resmi dibuka dengan pemukulan gong oleh Analis Kebijakan Ahli Utama Bappeda Provinsi Kepri, Reni Yusneli.