Dalam kondisi panas, botol tersebut dapat memantulkan dan memfokuskan sinar matahari sehingga memicu api pada rerumputan kering.
“Ada air sedikit di dalam botol yang terkena panas matahari, itu bisa menjadi pemicu terbakarnya ilalang,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Pemko Tanjungpinang telah menginstruksikan para camat dan lurah agar berkoordinasi dengan RT dan RW guna meningkatkan pengawasan di lingkungan masing-masing.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat terus digencarkan agar lebih peduli terhadap potensi kebakaran di sekitar mereka.
Lis menegaskan bahwa sebagian besar kasus karhutla yang terjadi saat ini merupakan akibat kelalaian manusia atau human error.
Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan agar terhindar dari kebakaran.
“Kita harus bersama-sama menjaga Tanjungpinang ini. Kalau bukan kita, siapa lagi,” katanya.
Di sisi lain, Lis juga menyampaikan apresiasi kepada petugas pemadam kebakaran yang selalu siaga selama 24 jam untuk menangani berbagai peristiwa kebakaran di wilayah Tanjungpinang.

