Menurut Robbi, cuaca buruk yang berpotensi terjadi di wilayah Kepulauan Riau dipicu oleh gangguan skala lokal maupun regional.

Dari sisi lokal, analisis angin di ketinggian 3.000 kaki menunjukkan adanya pola belokan angin (shearline) di wilayah Pulau Bintan yang menyebabkan perlambatan massa udara dan memicu terbentuknya awan-awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan disertai petir.

“Selain itu, aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO) di fase 4 serta Gelombang Kelvin di wilayah Kepri juga berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah Kepulauan Riau, termasuk Kota Tanjungpinang, Kabupaten Bintan, maupun wilayah perairannya,” pungkas Robbi.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama bagi para nelayan dan pengguna transportasi laut di perairan Kepri.