Romo Prambodo juga menambahkan bahwa perayaan Natal 2025 bertepatan dengan Tahun Syukur Khusus yang diperingati setiap 25 tahun sekali, dimulai pada tanggal 25 dan ditutup pada tanggal 27, dengan puncak makna rohani pada tanggal 28 sebagai hari penerimaan kerahiman Allah.

“Tahun Syukur ini sebenarnya sudah direncanakan sebelum terjadinya bencana. Namun dalam situasi seperti sekarang, maknanya justru semakin dalam,” jelasnya.

Tema Tahun Syukur tersebut, lanjut Romo, mengajak umat untuk menghadirkan Allah di tengah keluarga, terutama bagi keluarga yang tengah menghadapi berbagai persoalan, baik ekonomi, sosial, maupun masalah kehidupan lainnya.

“Banyak saudara kita yang kehilangan rumah dan orang-orang terkasih. Namun iman mengajarkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya, bahkan dalam situasi paling sulit sekalipun,” ungkapnya.

Romo Prambodo menegaskan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari hal-hal sederhana, yakni dari diri sendiri dan lingkungan keluarga.

“Jika ingin mengubah dunia, mulailah dari diri sendiri dan keluarga. Jadikan rumah kita sebagai tempat di mana Allah hadir,” pungkas Romo Prambodo.