HARIANMEMOKEPRI.COM — Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Provinsi memperingati 1 Muharram 1446 H di seputaran Tepi Laut Tanjungpinang, Minggu (7/7/2024).
Kegiatan tersebut diawali Pawai satu Muharram sebanyak ribuan kader BKMT se Provinsi Kepri dengan berjalan kaki dari depan Mall Pelayanan Publik hingga Gedung Daerah.
Total peserta dalam mengikuti Pawai 1 Muharram 1446 H sebanyak lebih kurang 10 ribu orang terdiri Majelis Taklim, Organisasi Wanita, Pelajar SMA/SMK.
Hj Dewi Kumalasari Ansar Ketua BKMT Provinsi Kepri mengucapkan terima kasih kepada Pemprov Kepri dan semua pihak yang mendukung dan berpartisipasi dalam acara ini
Dewi Ansar berharap dengan momentum satu Muharram dapat lebih baik dengan penuh harapan yang diinginkan.
“Harapan kita dalam kegiatan semoga masyarakat Kepri memahami makna dari menyambut Tahun Baru Islam, menjadikan sebagai momentum untuk hijrah ke arah lebih baik,” terang Dewi.
Gubernur Kepri Ansar Ahmad dalam sambutannya 1 Muharram 1446 H untuk mengevaluasi diri untuk merefleksikan diri dalam memperbaiki ibadah.
“Peringatan Tahun Baru Islam 1446 H ini sebagai tongkat estafet bagi setiap muslim untuk menerapkan hal positif dan menjadi refleksi serta motivasi untuk perbaikan diri,” tutur Ansar.
Ustadz Anugrah Cahyadi atau kerap disapa Ustadz Ucay menerangkan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan.
Keempat bulan dimuliakan itu, Dzulhijjah, Dzulqa’dah, Muharram, dan Rajab, diantara amalan bulan Muharam pertama memperbanyak puasa.
Kedua, lanjut Ustadz Ucay, disunnahkan untuk meluaskan belanja kepada keluarga pada hari kesepuluh Muharram. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw
Barang siapa melapangkan nafkah belanja kepada keluarganya (istri, anak dan orang-orang yang ia tanggung nafkahnya) pada hari ‘Asyura’, maka Allah akan melapangkan rezeki baginya sepanjang tahun (HR ath Thabarani, al-Baihaqi dan lainnya).
“Dua amalan di atas inilah yang secara eksplisit disebutkan dalam hadits, yaitu berpuasa dan melapangkan nafkah belanja kepada keluarga.
“Adapun amalan-amalan lain di hari ‘Asyura’ yang disebutkan oleh sebagian ulama, seperti melakukan shalat tasbih, sedekah, mengunjungi ulama, menjenguk orang sakit, mengusap kepala anak yatim, memakai celak, bersilaturahmi dan lain-lain, maka boleh-boleh saja diamalkan pada hari ‘Asyura’ meskipun tidak ada hadits yang secara khusus menganjurkannya,” jelas Ustadz Ucay.

