Sebaliknya, teknologi tersebut juga dapat disalahgunakan untuk membuat konten palsu, memanipulasi gambar, maupun melakukan tindak kejahatan digital.
Karena itu, ia mengimbau para pelajar agar memahami aturan yang berlaku dan selalu mengedepankan etika dalam menggunakan internet.
“Gunakan internet untuk hal-hal yang bermanfaat. Jangan mudah percaya dengan informasi yang belum jelas kebenarannya dan jangan ikut menyebarkannya. Bijak bermedia sosial adalah bentuk perlindungan bagi diri sendiri,” pesannya.
Ketua Panitia MPLS SMKN 1 Tanjungpinang, Said Thaha Ghafara, mengatakan materi literasi digital sengaja dimasukkan dalam rangkaian MPLS karena dinilai sangat relevan dengan kehidupan pelajar saat ini.
Said Thaha menjelaskan pemahaman mengenai penggunaan media sosial, bahaya hoaks, perjudian online, serta penyalahgunaan teknologi menjadi bekal penting bagi peserta didik baru agar mampu memanfaatkan dunia digital secara positif.
“MPLS bukan hanya mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, dan kesiapan siswa menghadapi perkembangan teknologi yang terus berubah,” ujarnya.
Tahun ini, MPLS SMKN 1 Tanjungpinang diikuti sekitar 740 peserta didik baru dari 11 program keahlian.
Salah seorang peserta, Naylia (15), mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru, terutama mengenai pentingnya berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi di media sosial.
Ia berharap materi yang diterima selama MPLS dapat menjadi pedoman bagi dirinya dan teman-temannya dalam menggunakan teknologi secara lebih bijak dan bertanggung jawab.

