Terkait keluhan masyarakat mengenai jadwal pemadaman yang dinilai tidak selalu sesuai dengan informasi yang diumumkan, Suheri menyebut hal itu disebabkan kondisi teknis pembangkit yang masih belum sepenuhnya stabil.

Ia mengatakan jadwal yang disampaikan kepada masyarakat bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kemampuan pembangkit yang tersedia.

“Kondisi sistem saat ini masih dinamis. Ada kalanya pembangkit yang direncanakan beroperasi belum bisa menyala sesuai waktu yang ditargetkan atau sebaliknya harus dilakukan penyesuaian lebih cepat untuk menjaga kestabilan sistem,” jelasnya.

Suheri menambahkan, beban puncak penggunaan listrik di Pulau Lingga umumnya terjadi pada sore hingga malam hari.

Pada periode tersebut, kebutuhan daya meningkat signifikan sehingga memerlukan pasokan listrik yang lebih besar.

Saat ini, PLN terus melakukan berbagai pekerjaan teknis guna memulihkan kapasitas pembangkit.

Salah satunya adalah perbaikan generator yang memerlukan penanganan khusus di Batam.

Berdasarkan informasi dari bagian pembangkitan, PLN menargetkan sistem kelistrikan Pulau Lingga dapat kembali normal pada minggu kedua Juli 2026.

“Kami berharap proses perbaikan berjalan lancar. Sesuai informasi yang kami terima dari bagian pembangkitan, target normalisasi sistem berada pada minggu kedua Juli,” katanya.

Suheri juga membantah isu yang berkembang di masyarakat yang mengaitkan pemadaman listrik dengan kendala pasokan bahan bakar minyak (BBM).

Menurutnya, kebutuhan BBM untuk operasional pembangkit tetap tersedia dan berjalan sesuai mekanisme kerja sama antara PLN dan Pertamina.