HARIANMEMOKEPRI.COM – Fasilitas pompong sekolah yang diberikan kepada pelajar Desa Pulau Mepar, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, dinilai belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan akses transportasi menuju sekolah.
Pasalnya, setelah menyeberang dari Pulau Mepar menuju Pelabuhan Tanjung Buton, para pelajar masih harus melanjutkan perjalanan melalui jalur darat menuju sekolah masing-masing di wilayah Daik Lingga.
Kondisi ini menjadi keluhan sejumlah warga yang ditemui Harianmemokepri.com di Pelabuhan Tanjung Buton, Sabtu (8/8/2026) pagi.
Warga menyebutkan, pelajar tingkat SMP, MTs hingga SMA harus mencari kendaraan lanjutan setelah turun dari pompong sekolah.
Jarak antara Tanjung Buton dan kawasan sekolah di Daik dinilai cukup jauh, sehingga menimbulkan biaya transportasi tambahan bagi para siswa.
Seorang warga yang tidak ingin namanya disebutkan mengaku bersyukur atas tersedianya pompong sekolah.
Namun, ia berharap pemerintah juga memperhatikan kebutuhan transportasi darat para pelajar.
“Kami sangat bersyukur sudah ada pompong sekolah. Tetapi ketika sampai di Tanjung Buton, anak-anak masih harus mencari kendaraan untuk melanjutkan perjalanan ke sekolah di Daik. Ini menjadi beban tambahan bagi mereka setiap hari,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan transportasi tersebut perlu mendapat perhatian karena berkaitan langsung dengan akses anak-anak terhadap pendidikan.
Dirinya berharap pemerintah daerah dapat menyediakan kendaraan khusus pelajar atau mencari pola transportasi yang dapat menghubungkan Pelabuhan Tanjung Buton dengan sekolah-sekolah di Daik.
“Jangan hanya sampai di pelabuhan. Kalau bisa, transportasi pelajar ini disiapkan dari Pulau Mepar sampai ke sekolah, sehingga anak-anak tidak kesulitan lagi mencari kendaraan setelah turun dari pompong,” katanya.
Tokoh masyarakat Lingga, Zuhardi, turut menyoroti persoalan tersebut. Ia mengatakan, keberadaan pompong sekolah merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap kebutuhan pendidikan masyarakat Pulau Mepar.
Namun, menurutnya, fasilitas tersebut perlu didukung dengan transportasi darat agar perjalanan pelajar benar-benar terakomodasi dari tempat tinggal hingga ke sekolah.
“Kita mengapresiasi transportasi laut yang sudah tersedia. Itu sangat membantu anak-anak Pulau Mepar. Tetapi setelah tiba di Tanjung Buton, mereka masih harus melanjutkan perjalanan ke Daik. Ini yang perlu dipikirkan bersama,” ujarnya.
Zuhardi menilai pemerintah daerah perlu melakukan pendataan terhadap jumlah pelajar yang menggunakan jalur tersebut serta kebutuhan transportasi mereka setiap hari.
Data tersebut, kata dia, dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk menentukan bentuk bantuan atau fasilitas transportasi darat yang paling sesuai.
“Pemerintah perlu melihat kondisi ini secara utuh. Transportasi laut sudah ada, tetapi akses menuju sekolah juga harus dipastikan. Jangan sampai anak-anak harus mengeluarkan biaya tambahan atau mengalami kesulitan hanya untuk melanjutkan perjalanan ke sekolah,” katanya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Lingga bersama pihak terkait dapat segera mencari solusi, baik melalui penyediaan kendaraan sekolah maupun skema transportasi bersama yang dapat melayani para pelajar dari Tanjung Buton menuju Daik.
Menurutnya, akses transportasi yang aman, terjangkau dan teratur akan membantu meringankan beban keluarga sekaligus memberikan kenyamanan bagi pelajar dalam menjalankan aktivitas pendidikan.
“Anak-anak ini adalah generasi penerus daerah. Kalau akses pendidikan ingin ditingkatkan, maka persoalan transportasi juga harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan,” pungkasnya.
Masyarakat pun berharap aspirasi tersebut dapat menjadi perhatian pemerintah daerah sehingga fasilitas transportasi bagi pelajar Pulau Mepar tidak berhenti pada akses penyeberangan saja, tetapi dapat terintegrasi hingga ke sekolah tujuan.

