HARIANMEMOKEPRI.COM — Pemantauan rukyatul hilal untuk penentuan awal 1 Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi yang digelar di kawasan Tugu Khatulistiwa, Kabupaten Lingga, menyatakan bahwa hilal tidak berhasil terlihat.
Berdasarkan laporan resmi Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lingga melalui Tim Badan Hisab dan Rukyat (BHR), posisi hilal saat matahari terbenam berada pada ketinggian -0° 57′ 54″ (tinggi hilal hakiki) dan -0° 04′ 10″ (tinggi hilal mar’i).
Dengan posisi minus tersebut, hilal masih berada di bawah ufuk sehingga secara astronomis tidak memungkinkan untuk dirukyat.
Pengamatan dilakukan pada pukul 18.14 WIB hingga 18.18 WIB. Data ephemeris menunjukkan matahari terbenam pada pukul 18.15.02 WIB, sementara hilal terbenam pada pukul 18.19.12 WIB.
Hilal berada di arah barat daya, sedikit di sebelah kanan matahari, dengan azimut matahari 258° 06′ 28″ dan azimut bulan 257° 04′ 24″.
Kegiatan rukyat tersebut turut dihadiri Muhammad Nizar, Kepala Kantor Kemenag Lingga Zamroni, Ketua MUI Kabupaten Lingga, unsur Bagian Kesra, perwakilan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, hakim Pengadilan Agama, serta sejumlah organisasi kemasyarakatan.
Dalam keterangannya kepada media, Zamroni menegaskan bahwa hasil rukyat sejalan dengan perhitungan hisab yang menunjukkan hilal masih berada di bawah ufuk.
“Secara astronomis hilal belum memenuhi kriteria untuk dapat terlihat. Hasil ini kami laporkan sesuai prosedur sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat,” ujarnya.
Laporan rukyat tersebut ditandatangani Ketua Tim BHR Kabupaten Lingga Abdurokhman dan diteruskan ke Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau sebelum disampaikan ke pusat.
Penetapan resmi awal 1 Ramadan 1447 Hijriah selanjutnya akan ditentukan melalui sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

