HarianMemoKepri.com, Tanjungpinang – Ada tiga hal yang harus dilakukan manusia ketika menerima nikmat Allah agar ia dipandang sebagai hamba yang bersyukur kepada-Nya. Pertama: secara batiniah ia harus mengakui telah menerima nikmat dari Allah. Kedua: secara lahiriah ia mengucapkan syukur atas nikmat itu. Ketiga: ia harus menjadikan nikmat itu sebagai pendorong untuk lebih giat beribadah kepada Allah Swt. Bila ketiga hal tersebut telah berpadu dalam diri seorang hamba, maka ia layak dikatakan sebagai hamba yang bersyukur kepada Allah.

“Ketiganya sering kita lupakan, terkadang kitalah yang melupakan atas apa yang Allah berikan,” jelas Hendri Kurniawan Hood saat bersantai bersama HarianMemoKepri.com di sebuah Kedai Kopi di Kota Tanjungpinang, Rabu, (11/7).

Lanjutnya, Tiga hal tersebut sebenarnya perpaduan antara hati, lisan dan perbuatan. Hati menjadi media untuk merasakan dan meyakini bahwa Allah-lah yang telah memberikan nikmat itu, bukan yang lain. Hati senantiasa merasakan kebaikan Allah sehingga mengakui sifat-sifat Maha Luhur yang dimiliki-Nya.

Pengakuan ini akan membuka pintu ke arah ma’rifatullah dan mahabbatullah. Lisan sebagai media untuk memuji kebaikan-Nya itu, sementara perbuatan merupakan transformasi kesyukuran itu yang nampak dalam bentuk ketaatan beribadah dan pencegahan diri dari segala macam bentuk kemaksiatan.

“Perpaduan hati, lisan, dan perbuatan bukan hanya prasyarat dalam bersyukur kepada Allah, namun jauh lebih mendasar daripada itu juga pada pengertian iman. Iman tidak sempurna kalau hanya ada di hati, sementara tidak ada dalam lisan dan perbuatan. Hilangnya iman dari salah satu komponen itu menyiratkan ketidaksempurnaannya. Maka, ketiganya harus padu dalam diri orang-orang yang beriman kepada Allah Swt,” lanjutnya.

Karena itu, Kekayaan dan kemiskinan adalah cara Allah menguji manusia, siapa di antara mereka yang bersyukur kepada-Nya. Kekayaan adalah ujian seberapa besar manusia masih mengingat Allah ketika hidupnya secara materi diberi Allah kecukupan bahkan berlebih. Kemiskinan juga ujian seberapa besar manusia mampu bersabar dalam keadaan hidup yang secara materi kekurangan. Di antara orang-orang kaya ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur. Di antara orang-orang miskin pun ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.

Namun, seperti yang ia katakan kebanyakan di antara orang-orang kaya tidak begitu percaya bahwa di tengah kekurangan hidup orang-orang miskin ada anugerah Allah yang tak ternilai. “Mereka menyangka anugerah Allah itu hanya terlimpah pada mereka dengan bukti kelebihan harta yang mereka miliki. Padahal Allah Maha Mengetahui siapa di antara manusia yang bersyukur dan Maha Bijaksana dalam menentukan anugerah apa yang terbaik untuk diberikan kepada hamba-hamba yang bersyukur pada-Nya,” tambahnya.

Menyimak cara yang ditunjukkan manusia dalam menyikapi nikmat Allah, ada dua kelompok manusia yang bisa disebutkan: yang bersyukur dan yang kufur. Terhadap kedua kelompok manusia ini Allah menunjukkan sikap yang berbeda. Manusia yang bersyukur akan mendapatkan bimbingan Allah ke jalan yang diridhai-Nya, di samping adanya tambahan nikmat yang akan diperolehnya. Sedangkan manusia yang kufur atau yang mengingkari nikmat Allah, maka Allah akan biarkan ia terus berada dalam kesesatan dan pemberian Allah yang terbaik baginya hanyalah siksaan yang pedih. Allah adalah Dzat yang tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya, namun Dia amat murka pada siapa pun yang tidak pandai berterima kasih kepada-Nya.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” jelasnya saat mengutip Surat Ibrahim [14] ayat 7.

Karena itu, yang bersyukur akan memperoleh tambahan nikmat yang berlipat ganda dari Allah, sementara yang kufur akan memperoleh siksa yang amat pedih dari-Nya.

“Bersyukur sesungguhnya merupakan jalan pintas yang dapat ditempuh setiap hamba Allah untuk mendekatkan diri pada-Nya. Bersyukur juga merupakan cara cepat untuk meraih kecintaan Allah. Karena bersyukur merupakan ibadah yang cepat mengundang turunnya kasih sayang Allah. Dan pasti jika bersyukur atas Nikmat Allah, pasti DIA tambahkan,” katanya.

Ada pula di antara orang-orang kaya dan para pejabat yang berkecukupan namun lupa bahwa semua yang diraihnya adalah anugerah Allah. Mereka menyangka apa pun yang mereka peroleh sebagai hasil kerja keras dan usaha mereka yang tak kenal lelah. Mereka berlepas diri dari hubungan dengan Tuhan. Dan mereka mengagung-agungkan kemampuan, kecerdasan, dan kelihaian dalam melihat peluang yang mereka miliki. Akhirnya, mereka pun terjerumus ke jurang kufur nikmat.

Ia memberi contoh bahwa Rasullullah SAW adalah sosok manusia yang ingin sekali menjadi hamba yang paling banyak bersyukur kepada Allah.

“Pada saat beliau mengakui dirinya belum menjadi hamba Allah yang banyak bersyukur, kenyataan yang terlihat adalah kedua telapak kakinya membengkak karena banyak mendirikan qiyamul lail. Tidak ada di antara manusia yang mampu menandingi banyaknya ibadah seperti yang beliau kerjakan. Tapi beliau masih tetap merasa ungkapan syukur yang telah dilakukannya belum mencukupi,” ungkapnya.

Rasulullah SAW selalu merasa bahwa kenikmatan yang telah dianugerahkan Allah padanya jauh lebih banyak dibandingkan dengan ibadah yang telah dipersembahkannya kepada Allah. Kesadaran inilah yang melahirkan energi luar biasa pada diri Nabi sehingga mampu beribadah kepada Allah jauh melebihi ibadah yang dilakukan orang lain, bahkan yang dilakukan oleh para Nabi yang lain.

“Dari contoh tadi. Intinya, bersyukur kepada Allah adalah kewajiban yang harus dilakukan manusia disebabkan banyaknya nikmat yang telah diberikan oleh-Nya. Tapi tidak mudah untuk menunaikan kewajiban tersebut, karena begitu banyak tipu daya yang dibentangkan Iblis agar manusia tidak bersyukur kepada Allah. Oleh karena itu, sebagai manusia yang lemah kita harus memohon pertolongan kepada Allah agar Dia menguatkan hati kita agar tetap bersyukur kepada-Nya,” tutupnya. (Red)