BMKG mencatat ketinggian air laut selama periode tersebut secara umum dapat mencapai sekitar 0,1 hingga 2,2 meter.

Kondisi ini berpotensi mengganggu berbagai aktivitas masyarakat yang berada di kawasan pesisir.

Selain faktor astronomis, BMKG juga memprakirakan adanya daerah pertemuan angin (konvergensi) dan belokan angin (shearline) di sekitar Pulau Bintan dalam beberapa hari ke depan.

Fenomena ini dapat menyebabkan perlambatan massa udara yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan konvektif penghasil hujan di wilayah Tanjungpinang dan sekitarnya.

“Perubahan kondisi cuaca di sekitar Perairan Tanjungpinang juga dapat memengaruhi peningkatan ketinggian air laut sewaktu-waktu,” jelasnya.

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal dan beraktivitas di kawasan pesisir, untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan secara resmi.

Potensi banjir rob tersebut diperkirakan dapat berdampak terhadap aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan dan kawasan pesisir, seperti kegiatan bongkar muat barang, aktivitas di pemukiman pesisir, serta sektor perikanan darat.