“Yang perlu dipastikan bukan hanya jumlah UMKM, tetapi mana yang sudah punya produk unggulan, mana yang siap naik kelas, dan mana yang masih membutuhkan penguatan modal,” ujar Lis.

Ia menegaskan, penguatan UMKM tidak cukup hanya melalui pelatihan, tetapi juga harus dibarengi dengan akses pembiayaan, pendampingan usaha, serta strategi pemasaran yang terhubung ke pasar nasional.

Selain itu, Pemko Tanjungpinang juga mendorong pengembangan potensi lokal, terutama sektor kelautan.

Komoditas seperti ikan pari dan gonggong dinilai memiliki peluang besar untuk diolah menjadi produk bernilai tambah, mulai dari makanan olahan hingga cenderamata khas daerah.

“Jika prospeknya baik, pengembangan dapat dilakukan melalui kerja sama produksi bersama BUMN, perbankan, serta kolaborasi dengan UMKM di luar daerah,” jelas Lis.

Sementara itu, salah satu pelaku usaha, Urip dari Rumah Makan Pondok Spesial Sambal, mengharapkan dukungan pemerintah dalam bentuk mesin pengemasan dan mesin retort untuk sterilisasi produk sambal agar lebih higienis dan tahan lama hingga satu tahun.