HMK, KEPRI — Wakil Ketua II DPRD Kepulauan Riau (Kepri), Raden Hari Tjahyono mengaku heran dengan pemadaman listrik yang dilakukan PLN pada awal tahun ini yang terjadi di mayoritas daerah Batam dan Bintan tersebut.

“Penjelasan PLN tentang terjadi kekeliruan sistem belum memuaskan publik, kita berharap PLN segera menemukan kekeliruan sistem yang dimaksud, kita berharap peristiwa ini tidak sering terjadi di hari-hari berikutnya,” kata Raden Hari, Senin (2/2023).

Pemadaman tersebut cukup disesalkannya karena lebih dari delapan jam.

Ditambahkannya, listrik mati sekarang krusial karena efek tambahannya mati air, mati sinyal, bahkan ATM mati.

“Hal ini tentu merugikan masyarakat, setelah lebih dari delapan jam mati listrik dari subuh, kita bersyukur sore menjelang maghrib listrik kita kembali menyala.

Mudah-mudahan ada penjelasan lebih lanjut dari PLN dan PLN bisa segera memulihkan akar persoalan kekeliruan sistem yang diungkapkannya ke publik secara komprehensif,” ujarnya.

“Mengingat masalah listrik ini adalah kebutuhan mendasar dalam aspek kehidupan masyarakat di Kepri, PLN mati membuat semuanya byarpet air, signal, ATM, apalagi jika kebijakan kendaraan listrik diterapkan bisa macet nanti dimana-mana,” tambah politisi PKS ini.

Dia juga mendesak MoU antara Pemprov Kepri dan Singapore terkait PLTS di Kepri bisa terealisasikan di tahun 2023 dan menguntungkan bagi Kepri agar surplus tenaga listrik dengan andalan energi terbarukan.

“MoU terkait rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terbesar dunia di Indonesia oleh Quantum Power Asia dan ib vogt bersama dengan Pemprov Kepri perlu ditindaklanjuti menurut hemat kami, dan semoga segera ada progresnya di tahun ini agar tidak hanya menguntungkan Singapore tapi juga Kepri nantinya,” pungkas dia. (batamnews)