HARIAN MEMO KEPRI, TANJUNGPINANG – Peluang Sultan Mahmud Riayat Syah III dari Kepri untuk dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional tahun ini dinilai semakin lebar. Sebab, ia merupakan satu dari dua nama yang disodorkan kepada Presiden. Lembaga Amanah Riau Hulu Kuala (LARUKA) mengharap peluang tersebut dapat segera terwujud, sehingga Pahlawan Melayu juga dapat menjadi Pahlawan Nasional. “Semoga segera terwujud, tentu kita sebagai anak melayu sangat berharap sekali bahwa Sultan Mahmud dapat segera diangkat menjadi Pahlawan Nasional,” ucap Ketua Laruka, Daeng Marzuki yang didampingi Kabid Penelitian dan Pengembangan Laruka, Wan Syahrul Ramdhani, Rabu, (23/2017). Meski diketahui, Persaingan memang cukup ketat, tetapi nama Sultan Mahmud, dikehendaki mayoritas anggota Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP). “Yang menghendakinya (Sultan Mahmud jadi Pahlawan Nasional) tertinggi dibandingkan yang lain, fan kita saat ini juga berkoordinasi dengan beberapa pihak untuk memantau perkembangannya,” ujarnya. Dikisahkannya juga, kiprah Sultan Mahmud melawan penjajah tak perlu diragukan lagi. Di bawah strategi yang ia buat, Belanda pernah menderita kekalahan dengan kerugian cukup besar dalam pertempuran di laut depan Tanjungpinang. Dalam pertempuran itu, tepatnya 6 Januari 1784, sebuah kapal perang milik Belanda bernama Malakka’s Welvaaren berhasil ditenggelamkan dan sekitar 500 serdadu musuh tewas. Ketika itu, Yang Dipertuan Muda Kerajaan Melayu Riau – Lingga – Johor – Pahang adalah Raja Haji Fisabilillah, yang berada di bawah kepemimpinan Mahmud sebagai Sultan. Pertempuran berlanjut di Teluk Ketapang, Malaka. Raja Haji mangkat, terbunuh oleh senjata musuh. Kendati demikian, Belanda tak mampu menguasai kedudukan kerajaan Melayu dan terus mendapat perlawan, terutama melalui gerilya di luat yang diterapkan Sultan Mahmud. Sebuah dokumen berawal dari catatan Belanda menyebut Sultan Mahmud sebagai penguasa yang cukup berpengaruh. Ia juga dikenal cukup junius, antara lain dapat ditandai dengan ketidakberdayaan Belanda menduduki pusat kerajaan yang ia pimpin. Sultan Mahmud memindahkan pusat kerajaan dari Tanjungpinang ke Lingga. Belanda tak mampu menjangkaunya. Selain lokasinya jauh dan medan yang cukup sulit dilalui, Sultan Mahmud juga memasang pasukan-pasukan di pulau-pulau di sekitarnya. (CR003).