Perayaan kemerdekaan Indonesia ke-81 pada pertengahan Agustus tahun ini menyajikan momen refleksi berharga bagi masyarakat urban untuk memerdekakan diri dari penumpukan perangkat elektronik lama yang memenuhi sudut ruangan rumah.
Berbagai laci meja kerja yang sebelumnya hanya menjadi tempat penyimpanan barang tak terpakai kini beralih fungsi menjadi sarang berdebu bagi puluhan ponsel pintar tua, kabel terbelit, hingga komputer jinjing rusak.
Banyak keluarga di kota-kota besar mulai menyadari bahwa tumpukan gawai usang tersebut bukan sekadar barang kenangan biasa, melainkan potensi bahaya beracun dari komponen baterai lithium yang berisiko mengalami kebocoran kimia.
Keputusan untuk melepas perangkat elektronik masa lalu sering kali terhalang oleh rasa sentimental mendalam terhadap memori foto digital serta berkas dokumen pribadi yang masih tersimpan rapi di dalam memori internalnya.
Seorang perajin daur ulang sampah elektronik di Jakarta Selatan membagikan pengalaman pribadinya tentang bagaimana pengolahan limbah teknologi secara tepat sanggup memberikan napas kehidupan baru bagi ekosistem lingkungan hidup kita.

