Sebagian besar pekerja muda di Jakarta sering kali menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar gawai genggam sebelum akhirnya menyadari tubuh mereka sudah sangat kelelahan.
Paparan sinar biru secara terus-menerus tanpa jeda memicu ketegangan saraf kepala serta mengganggu pola tidur malam secara kumulatif setiap minggunya bagi para pekerja.
Teknologi hunian cerdas generasi terbaru kini berfokus penuh pada pengurangan beban kognitif manusia melalui jaringan sensor ruang yang bekerja secara ramah dan tersembunyi.
Sistem penerangan pintar dapat menyesuaikan intensitas cahaya ruangan secara otomatis berdasarkan tingkat hormon kortisol yang terdeteksi lewat suhu kulit penghuni rumah.
Perubahan suasana ruang terjadi sedemikian halus sehingga kita tidak akan pernah merasa terganggu oleh deretan notifikasi aplikasi yang sering kali membingungkan pikiran kita.
Pendekatan desain teknologi pasif ini menempatkan kenyamanan emosional manusia sebagai prioritas utama ketimbang sekadar memamerkan kecanggihan fitur perangkat elektronik terhubung di rumah.

