HARIANMEMOKEPRI.COM – Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, Dinas Pariwisata Kota Tanjungpinang menggelar Forum Group Discussion (FGD) membahas strategi pemasaran pariwisata dalam konteks kebijakan visa bebas kunjungan.
Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Bintan Plaza, Rabu (7/5/2025), dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri Guntur Sakti, Sekda Tanjungpinang Zulhidayat, serta para pelaku industri pariwisata dan stakeholder terkait.
Dalam pemaparannya, Guntur Sakti menyampaikan pentingnya membangun semangat kolektif antar pemangku kepentingan dalam menggairahkan kembali ekosistem pariwisata di Tanjungpinang.
“Ada beberapa tantangan yang harus dimanfaatkan, seperti upaya Gubernur Kepri yang sedang memperjuangkan skema pembebasan visa bagi entitas tertentu di Singapura,” ungkap Guntur.
Ia menjelaskan, pada 2024, Kepri telah mendapatkan dua pemegang VR bebas visa dan skema visa jangka pendek selama tujuh hari.
Saat ini, pihaknya tengah memperjuangkan pembebasan visa kunjungan secara lebih luas.
Menurut Guntur, momen depresiasi rupiah terhadap dolar AS menjadi peluang emas untuk mendongkrak sektor pariwisata.
“Kita harus manfaatkan situasi ini untuk menarik wisatawan mancanegara melalui promosi dan pelayanan yang optimal,” ujarnya.
Guntur juga menyoroti arahan kebijakan nasional melalui Perpres Nomor 1 Tahun 2024, yang menetapkan Tanjungpinang sebagai destinasi wisata budaya (culture and heritage).
Dengan perpaduan budaya Melayu dan Tionghoa, Tanjungpinang memiliki peluang besar untuk melakukan rebranding destinasi.
Ia pun memberikan tiga kiat utama kepada pelaku industri pariwisata agar mampu menarik lebih banyak wisatawan mancanegara:
1. Menggencarkan promosi melalui digital marketing,
2. Menjalin kerja sama dengan travel agent untuk menciptakan paket wisata yang unik dan menarik,
3. Meningkatkan kualitas pelayanan produk wisata (service excellence).
Saat ini, Tanjungpinang berada di posisi keempat dari empat pintu masuk wisatawan mancanegara di Kepri.
Guntur mendorong semua pihak untuk melihat Batam, Bintan, dan Karimun sebagai motivasi sekaligus kompetitor.
Sementara itu, Sekda Tanjungpinang Zulhidayat mengakui bahwa sektor pariwisata kota saat ini sedang menghadapi tantangan.
Namun, menurutnya, sektor ini memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi meski dengan anggaran terbatas.
“Pariwisata adalah sektor yang tidak membutuhkan investasi besar, tapi mampu memberi dampak ekonomi yang luar biasa,” ujarnya.
Zulhidayat menambahkan, potensi budaya Melayu dan Tionghoa di Tanjungpinang harus diangkat melalui strategi digital marketing dan rebranding destinasi.
Ia berkomitmen untuk melibatkan para konten kreator lokal dalam mengangkat nilai budaya tersebut.

