HARIANMEMOKEPRI.COM — Siapa tidak mengenal dengan Provinsi Sumatera Barat yang penuh akan keindahan, baik wisata maupun kulinernya.
Namun sering kali kita mendengar sesama orang Sumatera Barat tentu menyebutkan kalimat Minangkabau, urang Minang dan seterusnya.
Lantas apa sejarahnya Minangkabau tersebut? .
Baca Juga: Usai Direvitalisasi, Masjid Jamik Sultan Lingga Lebih Menawan
Sejarah bermula pada masa kerajaan Adityawarman, yang merupakan tokoh penting Minangkabau. Seorang Raja yang tidak ingin disebut sebagai Raja, pernah memerintah di Pagaruyuang, daerah pusat kerajaan Minangkabau, selain itu beliau juga orang pertama yang memperkenalkan sistem kerajaan di Sumatera Barat.
Sejak Pemerintah Raja Adityawarman tepatnya pertengahan abad 17, Provinsi Sumatera Barat ini lebih terbuka dengan dunia luar khususnya Aceh. Karena hubungan dengan Aceh yang semakin intensif melalui kegiatan ekonomi masyarakat, akhirnya mulai berkembang nilai baru yang menjadi landasan sosial budaya masyarakat Sumatera Barat.
Baca Juga: Gubernur Ansar Ahmad Resmikan Ruang Praktek Siswa SMK Negeri 1 Bintan Utara
Agama Islam sebagai nilai baru tersebut berkembang dikalangan masyarakat dan membatasi-angsur yang mendominasi masyarakat Minangkabau yang sebelumnya didominasi agama Budha.
Selain itu sebagian kawasan di Sumatera Barat yaitu pesisir pantai masih berada di bawah kerajaan kekuasaan Pagaruyung, namun kemudian bagian dari kesultanan Aceh.
Baca Juga: Beri Motivasi Pelajar, Ansar Membaur Bersama Putra-Putri SMAN 1 Bintan Utara
Melirik sejarah singkat Minangkabau, merupakan salah satu desa yang berada dikawasan Kecamatan Sungayang, Tanah Datar, Sumatera Barat. Desa tersebut awalnya merupakan tanah lapang.
Namun karena adanya isu yang berkembang bahwa kerajan Pagaruyuang akan menyerang kerajaan Majapahit dari daerah Jawa maka terjadilah peristiwa adu kerbau atas usul kedua belah pihak. Kerbau terebut mewakili peran kedua kerajaan.
Baca Juga: Pemprov Kepri Lanjutkan Program Mubaligh Hinterland di Tahun 2023
Karena kerbau Minang berhasil memenangkan perkelahian maka muncullah kata manang kabau yang selanjutnya dijadikan nama Nagari atau desa tersebut.
Upaya penduduk setempat mengenang peristiwa bersejarah tersebut, penduduk Pagaruyuang mendirikan rumah loteang (rangkiang) di mana atapnya berbentuk tanduk kerbau.
Baca Juga: Film Mangkujwo 2 Kisah Sekte Pemuja Setan Cek Sinopsis dan Jadwal Tayang
Menurut cerita, rumah tersebut didirikan dibatas tempat bertemunya kerajaan Majapahit yang dijamu dengan rasa hormat oleh wanita cantik pagaruyuang. Situasi masyarakat saat itu pada umumnya dengan cara berdagang, bertaniawah, hasil hutan dan mulai berkembang bertambang emas.
Beberapa pertanyaan yang muncul bahwa alat transportasi yang digunakan untuk menelusuri dataran tinggi Minangkabau adalah kerbau.
Alasan menggunakan kerbau karena agama yang dipercaya pada waktu itu diajarkan untuk mengibarkan binatang gajah, kerbau dan lembu. Karena ajaran tersebut menreka menggunakan kerbau sebagai masyarakat dengan adu kerbau.
Baca Juga: Suku Melayu Jadikan Roti Jala Kuah Kari Sebagai Cemilan yang Gurih, Cek Cara Buatnya
Bukti arkeolog mengatakan bahwa daerah kawasan Minangkabau yaitu Lima Puluh Koto merupakan daerah yang dihuni untuk pertama kali oleh nenek moyang orang Sumatera diperkirakan berlayar melalui rute ini dan sebagian menetap dan mengembangkan peradaban disekitar Lima Puluh Koto tersebut.
Terbukanya Provinsi Sumatera Barat terhadap dunia luar menyebabkan kebudayaan yang semakin berkembang oleh bercampurnya para pendatang.
Baca Juga: Untuk Jadi Pengrajin Bot, Ada 8 Jenis Kayu Yang digunakan Apa Saja itu? Ini dia penjelasannya
Jumlah pertumbuhan penduduk ke berbagai lokasi Sumatera Barat. Sebagian menyebar ke selatan dan sebagian kebagian barat Sumatera.
Jatuhnya kerajaan Pagaruyuang dan keterlibatannya negara Belanda di Perang Padri, menjadikan daerah pedalaman Minangkabau menjadi bagian dari Pax Nerderlandica oleh pemerintah Hindia Belanda. Kemudian daerah Miangkabau dibagi menjadi Residentie Padangsche Bovenlanden serta Benedenlanden.
Baca Juga: 14 Februari Merupakan Hari Lahirnya KH Hasyim Asy’ari Pendiri Nahdlatul Ulama
Pada zaman VOC, Hoofdcomptoir van Sumatra’s westkust merupakan sebutan untuk wilayah pesisir barat Sumatera. Hingga abad ke 18, Provinsi Sumatera Barat semakin terkena pengaruh politik dan ekonomi akhirnya kawasan ini mencangkup daerah pantai barat Sumatera.
Kemudian mengikuti perkembangan administrasi pemerintahan Belanda, kawasan ini masuk dalam pemerintahan Sumatra’s Westkust dan di ekspansi lagi mengabungkan Singkil dan Tapanuli.
Baca Juga: Waspada Berikut ini 9 Sungai dan Pesisir Mangrove di Kabupaten Lingga Sering Bermunculan Buaya
Selanjutnya masa pendudukan Jepang dikawasan ini, Residen Sumatra’s Westkust berganti nama dengan bahasa Jepang yaitu Sumatoro Nishi Kaigan Shu kemudian digabung ke wilayah Rhio Shu.
Sampai awal kemerdekaan negara Republik Indonesia tahun 1945, daerah Sumatera Barat digabungkan dengan Provinsi Sumatera Barat yang berdomisili di Bukittinggi.
Tahun 1949 Provinsi Sumatera mengalami perpecahan menjadi 3 kawasan, yakni Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Sumatera Tengah yang mencangkup Sumatera Barat, Jambi dan Riau.
Baca Juga: Unit Reskrim Polsek Bintan Timur Ringkus Pelaku Jambret di Tanjungpinang
Penduduk Sumatera Barat dihuni oleh mayoritas oleh suku Minangkabau. Selain suku Minang, di wilayah Pasan dihuni oleh Suku Mandailing dan suku Batak.
Awal munculnya suku penduduk tersebut pada abad ke 18 masa Perang Paderi. Daerah Padang Gelugur, Luang Silaut dan Sitiung yang merupakan daerah transmigasi terdapat juga suku Jawa. Sebagian di daerah tersebut terdapat penduduk Imigran keturunan Suriname yang kembali memilih pulang ke Indonesia pada akhir tahun 1950 an.
Para imigran tersebut ditepatkan di daerah Sitiung. mayoritas penduduk suku Mentawai juga berdomisili di kepulauan Mentawai dan sangat jarang ditemui penduduk suku Minangkabau. Beberapa suku lainnya seperti etnis Tionghoa memilih menetap di Kota – kota besar seperti Bukittinggi, Padang dan Payakumbuh.***

