HARIANMEMOKEPRI.COM — Setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing, maka tak khayal Indonesia memiliki beragam suku, budaya, ras dan agama. 

Salah satunya yakni Sumatera Barat, Sumatera Barat sendiri terdapat banyak kebudayaan yang dimiliki seperti misalnya tari Indang, randai, Tari Piring dan masih banyak lainnya.

Kali ini sedikit mengulas sejarah tentang tari piring yang berasal dari Sumatera Barat. Tari Piring merupakan sebuah seni tarian milik orang Minangkabau yang berasal dari Sumatra Barat. Ia merupakan salah satu seni tarian Minangkabau yang masih diamalkan penduduk keturunan Minangkabau. 

Baca Juga: Selain Jadi Bumbu Masakan Rebusan Air Kunyit Cocok Bagi Kesehatan Tubuh Manusia, Berikut Khasiatnya

Pada awalnya sejarah Tari Piring ini memiliki maksud dalam pemujaan masyarakat Minangkabau terhadap Dewi Padi dan penghormatan atas hasil panen. Kedatangan Islam telah membawa perubahan kepada kepercayaan dan konsep tarian ini. 

Pada jaman sekarang Tari Piring tersebut lebih sering diadakan pada acara pernikahan dan sejak agama Islam masuk, Tari Piring mempersembahkan sesajennya kepada raja-raja atau pembesar negeri. 

Tari Piring tidak lagi dipersembahkan kepada dewa-dewa. Tidak dapat dipastikan dengan tepat mengenai sejarah Tari Piring. Namum, dipercayai bahwa ia telah wujud sekian lama di Kepulauan Melayu sejak lebih 800 tahun yang lalu. 

Baca Juga: Erick Thohir: FIFA Memberikan Sejumlah Catatan Terhadap Enam Stadion Piala Dunia U20 2023

Tari Piring ini dipercayai telah bertapak di Sumatra Barat atau lebih dikenali sebagai Minangkabau, dan berkembang hingga ke zaman Sriwijaya.

Kemunculan kerajaan Majapahit pada kurun ke 16, yang menjatuhkan kerajaan Sriwijaya telah mendorong perkembangan Tari Piring ke negeri-negeri Melayu bersama-sama orang-orang pelarian Sriwijaya ketika itu. 

Tari Piring dikatakan tercipta oleh wanita-wanita cantik yang berpakaian indah, serta berjalan dengan lemah lembut penuh kesopanan dan ketertiban ketika membawa piring berisi makanan yang lezat untuk dipersembahkan kepada dewa-dewa sebagai sajian. 

Baca Juga: Tanah Longsor di Pulau Serasan Puluhan Orang Dikabarkan Hilang, Pihak BPBD Kesulitan Mencari Informasi

Wanita-wanita ini akan menari sambil berjalan, dan dalam masa yang sama menunjukan kecakapan mereka membawa piring yang berisi makanan tersebut.

Menurut pemahaman penduduk Sumatra Barat, gerakan tari piring melambangkan kerja sama ketika warganya berada di sawah. 

Tarian Piring ini diiringi lagu yang dimainkan dengan talempong dan saluang, yang dimana gerakannya dilakukan dengan cepat sambil memegang piring di telapak tangan mereka.

Baca Juga: Sosialisasi P4GN, Kadisbudpar Kota Tanjungpinang Minta Jajarannya Jauhi Narkoba

Kadangkala piring-piring tersebut mereka lempar ke udara atau mereka menghempaskannya ke tanah dan diinjak oleh para penari tersebut dengan kaki telanjang. 

Kesenian Tari Piring ini dilakukan secara berpasangan maupun secara berkelompok dengan beragam gerakan yang dilakukan dengan cepat, dinamis serta diselingi bunyi piring yang berdentik yang dibawa oleh para penari tersebut. 

Baca Juga: Tim Gabungan TNI Polri dan Basarnas Natuna Berangkat Pulau Serasan Guna Membantu Evakuasi Korban Longsor

Musik Tari Piring dibunyikan oleh gemerincing dua cincin di kedua tangan penari, berikut iringan meriah dari talempong dan saluang. Umumnya personel penari piring berjumlah ganjil dan terdiri dari tiga sampai tujuh orang 

Sesungguhnya filosofi Tari Piring hanyalah simbol dari kegembiraan para petani disaat panen, yang kemudian mereka bergembira ria dan gerakan gerakan dinamis. Piring adalah wadahnya yang didalamnya terhidang aneka macam masakan. Wadah piring juga ada gambaran dari keaneka ragaman masakan khas Minangkabau.***