“Bahasa Indonesia yang kita gunakan hari ini berasal dari Bahasa Melayu, dan akar sejarahnya berasal dari Pulau Penyengat, pusat peradaban Kesultanan Riau-Lingga,” jelas Ashar.
Ia berharap mahasiswa dapat memahami dan mencintai sejarah serta budaya lokal sebagai modal kepemimpinan di masa depan.
Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, turut hadir dan memberikan sambutan. Ia menekankan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya Melayu di tengah derasnya pengaruh globalisasi.
“Budaya bukan sekadar tontonan, tapi tuntunan. Seni bukan hanya hiburan, tapi cerminan nilai, etika, dan jati diri,” ujar Lis. Ia menambahkan, pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, akademisi, seniman, hingga generasi muda.
Beragam pertunjukan ditampilkan dalam festival ini, seperti Tari Sumpah Sultan, stand-up comedy bertema budaya, celoteh budaya, hingga pengumuman pemenang lomba fashion show busana Melayu kontemporer.
Sebagai penutup, Tim KKN-PPM UGM menyerahkan plakat penghargaan kepada Wali Kota sebagai bentuk apresiasi atas dukungan terhadap kegiatan ini.

