“Brendung merupakan sarana penolak bala atau bencana, sekaligus dipercaya sebagai media untuk memohon turunnya hujan,” ujar Prakoso, Selasa (27/1/2026).
Ia menjelaskan, Brendung merupakan kesenian berbentuk boneka yang dibuat dari bahan alami.
Kepala boneka terbuat dari tempurung kelapa, sementara tubuhnya dirangkai dari bambu.
Boneka tersebut dirias sedemikian rupa, diberi pakaian hingga menyerupai sosok wanita cantik. Boneka kemudian ditancapkan pada alas tampah atau penampi.
“Dalam kepercayaan setempat, boneka cantik ini diibaratkan sebagai bidadari yang disebut Brendung,” jelasnya.
Dalam pementasan Brendung, terdapat empat hingga enam perempuan yang bertugas sebagai pelantun atau penyanyi.
Sementara satu orang berperan sebagai Mlandang, yakni pemimpin pertunjukan sekaligus pemeran utama yang memainkan boneka Brendung.
Selain itu, terdapat empat orang lainnya yang memegang tali dari empat sisi guna menjaga keseimbangan boneka agar tidak terlepas saat dimainkan.
Gerakan boneka yang tampak meronta-ronta inilah yang kerap membuat penonton merinding, sekaligus menambah daya tarik kesenian tradisional tersebut.

