HARIANMEMOKEPRI.COM — Menjelang Hari Raya Idul Adha 1446 H, penjualan hewan kurban di sejumlah wilayah Kecamatan Petarukan dan Taman, Kabupaten Pemalang, masih terpantau sepi.

Kondisi ini dikeluhkan para pedagang, yang biasanya mulai kebanjiran pembeli sejak satu bulan sebelum Lebaran kurban.

Dadang (45), seorang pedagang sapi di Kecamatan Taman, mengaku bahwa permintaan tahun ini jauh di bawah harapan.

Ia setiap hari membawa puluhan ekor sapi dari Lumajang dan Tuban untuk dijajakan di lapaknya di jalan raya Beji–Banjardawa.

“Biasanya dua minggu sebelum Idul Adha sudah ramai, tapi sekarang belum kelihatan tanda-tanda peningkatan permintaan,” kata Dadang saat ditemui pada Selasa (27/5).

Dadang menjual sapi jenis Simental dan Limosin dengan harga bervariasi, antara Rp20 juta hingga Rp30 juta per ekor, tergantung ukuran dan jenisnya.

Ia juga mengeluhkan keterlambatan transaksi karena banyak pembeli hanya membayar uang muka (DP), berbeda dengan tahun sebelumnya yang lebih banyak transaksi tunai.

“Sekarang kebanyakan baru DP, jarang yang langsung bayar lunas. Mungkin karena faktor ekonomi, apalagi dana dari sales juga telat masuk,” tambahnya.

Menurutnya, omzet penjualan tahun ini menurun drastis. Dalam seminggu, ia hanya mampu menjual 3 hingga 4 ekor sapi. Padahal, tahun lalu ia bisa menjual 2 hingga 3 ekor setiap hari.

Kondisi serupa juga dialami Warso (50), pedagang kambing di kawasan Kendalsari, Petarukan. Ia mengaku lesunya permintaan hewan kurban terjadi hampir di semua lapak.

“Permintaan lesu mungkin karena banyak petani gagal panen, ditambah kebutuhan orang tua untuk biaya masuk sekolah anak,” ujarnya.

Meski permintaan turun, harga kambing kurban masih terbilang stabil, yakni di kisaran Rp3 juta hingga Rp5 juta per ekor.

Biasanya, mendekati Idul Adha harga hewan kurban cenderung naik, namun hingga kini belum ada lonjakan harga karena minimnya permintaan.

Para pedagang berharap kondisi akan membaik dalam beberapa hari ke depan, seiring semakin dekatnya Hari Raya Idul Adha.