Opini publik oleh
Taufiq Akbar
Ketua senat mahasiswa STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal digagas sebagai langkah strategis untuk menjawab persoalan gizi anak-anak Indonesia.
Kehadirannya disambut antusias oleh masyarakat, terutama para orang tua dan pendidik, yang menaruh harapan besar agar program ini mampu memenuhi kebutuhan gizi dan protein anak sebagai fondasi tumbuh kembang yang sehat. Namun, seiring waktu berjalan, realita di lapangan justru memunculkan kekecewaan.
Di salah satu sekolah di Kota Tanjungpinang, pelaksanaan MBG pada masa libur sekolah menarik perhatian publik.
Menu yang seharusnya menjadi penopang asupan gizi anak justru kerap didominasi oleh snack atau jajanan ringan.
Jenis makanan seperti ini belum tentu memiliki kandungan gizi yang jelas dan seimbang.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran, bukan sekadar soal variasi menu, melainkan menyangkut masa depan kesehatan anak-anak yang menjadi sasaran utama program MBG.
Lebih mengkhawatirkan lagi, terdapat indikasi berkurangnya porsi makanan pokok dalam menu MBG.
Makanan berat yang semestinya menjadi sumber utama energi dan nutrisi perlahan tergeser oleh snack ringan.
Pergeseran ini berpotensi mengurangi asupan zat gizi penting seperti karbohidrat kompleks, protein, vitamin, dan mineral yang sangat dibutuhkan anak-anak dalam masa pertumbuhan.
Jika kondisi ini terus berlanjut, tujuan mulia program MBG dikhawatirkan tidak tercapai secara optimal.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan wajar dari masyarakat. Bagaimana menu MBG yang didominasi oleh snack ringan dapat dinyatakan layak dan lolos dalam proses penilaian?
Pertanyaan ini terutama diarahkan pada peran ahli gizi yang seharusnya memastikan setiap menu memenuhi standar kebutuhan gizi anak.
Transparansi dalam proses evaluasi dan pengawasan menjadi hal yang mendesak untuk dilakukan.
Program MBG sejatinya bukan sekadar program pembagian makanan, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia.
Oleh karena itu, diperlukan evaluasi menyeluruh dan keterbukaan dari pihak terkait agar pelaksanaannya kembali sejalan dengan tujuan awal.
Masyarakat berharap MBG benar-benar hadir sebagai solusi pemenuhan gizi anak, bukan sekadar formalitas program yang kehilangan substansi.

