HARIANMEMOKEPRI.COM — Malam Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro.
Dalam penanggalan Jawa, dihitung berdasarkan penggabungan kalender lunar (Islam), kalender matahari (masehi) dan Hindu.
Baca Juga: Mahfud MD Puji Hakim Berani dan Objektif Atas Putusan Vonis Richard Eliezer, Cek Fakta Menariknya
Malam Satu Suro yang sangat lekat dengan budaya Jawa, biasanya terdapat ritual tradisi iring-iringan rombongan masyarakat atau kirab. Beberapa daerah Jawa merupakan tempat berlangsungnya perayaan Malam Satu Suro.
Di Solo, misalnya perayaan Malam Satu Suro terdapat hewan khas yang disebut kebo (kerbau) bule. Kebo bule menjadi salah satu daya tarik bagi warga yang menyaksikan perayaan Malam Satu Suro dan konon dianggap keramat oleh masyarakat setempat.
Baca Juga: Walikota Batam Silaturahmi dengan Ikatan Pendeta Menetap Batam se Kota Tanjungpinang
Ada beberapa mitos yang beredar mengenai Malam Satu Suro sebagaimana dikutip harianmemokepri.com di kanal Youtube Nadia Omara pada 21 Februari 2023.
Mitos yang tersebar di masyarakat mengenai Malam Satu Suro ialah sebagai berikut :
Baca Juga: PT Mitracomm Ekasarana Buka Lowongan Kerja Terbuka Untuk Fresh Graduate, Cek Persyaratannya Disini
1. Jangan mengadakan pesta atau perayaan dimalam itu karena akan mendapat kesialan.
2. Para arwah yang akan kembali ke rumahnya untuk mengunjungi keluarga pada saat Malam Satu Suro.
3. Dilarang berpergian maupun pindah rumah.
Baca Juga: PT Mitracomm Ekasarana Buka Lowongan Kerja Terbuka Untuk Fresh Graduate, Cek Persyaratannya Disini
Adapun ritual-ritual khusus yang sering kali dilakukan masyarakat Jawa lakukan ketika Malam Satu Suro ialah sebagai berikut :
1. Penjamasan, rutial pencucian benda-benda pusaka seperti keris, kerata kencana yang dilakukan oleh abdi dalam keraton.
Baca Juga: Yayasan Khalifatullah Fil Ardhi Buka Lowongan Kerja di Batam, Segera Daftarkan Dirimu
2. Kirab Kebo Bule,dilaksanakan di Keraton Surakarta Solo,kebo bule kyai slamet. Bukan sembarang kerbau, karena hewan ini termasuk pusaka penting milik keraton.
3. Topo bisu lampah mubeng benteng Keraton Yogyakarta, dimana dalam tradisi ini para abdi dalam berkeliling keraton dengan berjalan kaki sembari berdoa dan tidak berbicara.
4. Ruwatan, ritual pembersihan dari kesialan menurut kepercayaan Jawa.
itulah beberapa ritual yang sering kali di lakukan saat Malam Satu Suro memang bermacam-macam tergantung dari daerah mana memandang hal ini.
Baca Juga: Penampungan Barang Bekas Ludes Terbakar dan Alami Kerugian Ratusan Juta Rupiah, Ini Kata Polisi
Ada juga yang melakukan Tapa Bisu di Malam Satu Suro, atau mengunci mulut yaitu tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini.
Yang dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri di Malam Satu Suro, berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh, menghadapi tahun baru di esok paginya.***

