HARIANMEMOKEPRI.COM – Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Luki Zaiman Prawira, mewakili Gubernur Kepri Ansar Ahmad, menerima kunjungan kerja Komisi IX DPR RI di Gedung Daerah, Tanjungpinang, Rabu (22/4).
Kunjungan dipimpin Ketua Tim Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, tersebut membahas sejumlah isu strategis, meliputi sektor kesehatan, ketenagakerjaan, hingga perlindungan sosial di wilayah kepulauan yang memiliki kompleksitas geografis tinggi.
Dalam paparannya, Luki menyampaikan bahwa Provinsi Kepri mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,94 persen pada tahun 2025, tertinggi di wilayah Sumatera. Meski demikian, ia menegaskan pemerataan pembangunan masih menjadi tantangan utama.
“Hal ini disebabkan kondisi wilayah Kepri yang terdiri dari 2.028 pulau,” ujar Luki.
Di sektor kesehatan, Pemerintah Provinsi Kepri terus memperluas program pemeriksaan kesehatan gratis yang telah menjangkau lebih dari 104 ribu masyarakat.
Selain itu, percepatan eliminasi tuberkulosis (TBC) serta penanganan stunting juga terus digencarkan.
Sementara itu, pada sektor ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka berhasil ditekan hingga 6,35 persen.
Capaian tersebut didorong melalui program link and match pendidikan vokasi serta pelatihan tenaga kerja, khususnya di sektor galangan kapal.
Di bidang perlindungan sosial, Pemprov Kepri juga memperkuat subsidi kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bagi lebih dari 31 ribu nelayan dan 9 ribu petani sebagai bentuk perlindungan terhadap pekerja rentan.
Luki turut menyoroti sejumlah tantangan strategis, seperti tingginya biaya logistik antar-pulau, keterbatasan akses layanan kesehatan, serta masih maraknya pekerja migran non-prosedural di wilayah perbatasan.
Hingga tahun 2025, Gugus Tugas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) telah menangani lebih dari 5.800 kasus pekerja migran bermasalah.
Dari sisi capaian pembangunan, Kepri mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 80,53, tertinggi di luar Pulau Jawa.
Angka kemiskinan juga berhasil ditekan menjadi 4,26 persen, terendah di Sumatera.
Ia menegaskan pentingnya dukungan pemerintah pusat, terutama dalam penguatan anggaran dekonsentrasi dan Dana Alokasi Khusus (DAK), khususnya untuk sektor kesehatan dan ketenagakerjaan.
“Termasuk peningkatan fasilitas kesehatan di pulau-pulau terdepan,” tambah Luki.
Sementara itu, Ketua Tim Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh, mengapresiasi capaian pembangunan Provinsi Kepri, terutama pertumbuhan ekonomi yang dinilai berada di atas rata-rata nasional.
“Provinsi Kepulauan Riau ini istimewa, karena dalam beberapa hal capaian Kepri sangat luar biasa, terutama pertumbuhan ekonominya yang di atas rata-rata,” terang Nihayatul Wafiroh.
Namun demikian, ia menekankan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) tetap menjadi tantangan utama yang perlu mendapat perhatian serius.
“Apakah pertumbuhan ekonomi ini sudah dibarengi dengan kualitas SDM? Ini menjadi perhatian bersama Komisi IX,” tegas Ketua Tim Komisi IX DPR RI.
Nihayatul menjelaskan, kunjungan ini bertujuan untuk memastikan implementasi program prioritas nasional di daerah berjalan optimal, termasuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia juga menyoroti kompleksitas wilayah Kepri sebagai daerah kepulauan dengan banyak jalur perlintasan, termasuk jalur tidak resmi yang berpotensi menimbulkan berbagai persoalan.
“Wilayah Kepri memiliki banyak jalur perlintasan, termasuk jalur tikus yang cukup kompleks. Ini menjadi perhatian serius kami,” ungkapnya.
Selain itu, dirinya menyoroti peredaran obat dan makanan serta dinamika ketenagakerjaan akibat tingginya mobilitas penduduk.
“Pertambahan penduduk di Kepri bukan hanya karena kelahiran, tetapi juga tingginya migrasi dari provinsi lain. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama,” lanjutnya.
Komisi IX DPR RI juga menekankan pentingnya penguatan pengawasan lintas sektor, terutama terkait pekerja migran non-prosedural di wilayah perbatasan.
“Kami akan terus memperkuat regulasi dan koordinasi agar perlindungan pekerja dan sistem ketenagakerjaan di daerah berjalan optimal,” pungkas Nihayatul Wafiroh.

