HarianMemoKepri.com, Hukrim – RG (50), memang lelaki lugu. Menikah lagi setelah menduda 5 tahunan, justru kaget karena S (47), di ranjang terlalu agresif bahkan terkesan menjijikkan. Tak biasa dengan gaya bercinta istri barunya, meski perkawinan baru sebulan lamanya, memilih bubar.

“Mulut ya buat makan dan ngomong, bukan untuk itu,” kata RG kepada hakim persidangan dengan lugunya, Senin, (23/7).

Hidup yang sederhana, apa adanya, kadang sulit menerima atau beradaptasi dengan perubahan. Dia kaget, betapa kehidupan itu sudah demikian berubah, ketimbang yang dijalani selama ini. Bahwa perubahan itu bisa menjadikan hidup nyaman, orang yang sederhana cenderung kolot, lebih memilih dengan gaya lamanya meski dibilang ndesit.

RG warga Ketintang, Surabaya, sejak kecil memang hidup dalam keluarga sederhana yang bermartabat. Saat sekolah dari SD sampai kuliah, dia terkesan menjadi anak mama. Dia nyaris tak pernah kelayapan sebagaimana lazimnya anak muda. Pendek kata, habis mandi RG terus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku begitulah keseharian RG.

Awalnya RG anak bandel, sampai kemudian terjadi kecelakaan gara-gara kebengalannya itu. Kakinya pun kemudian agak pincang, sehingga teman-temannya menyebut sebagai RG. Tapi sejak itu RG mendadak berubah. Apa kata mama dituruti benar ketimbang nanti kakinya cacat lagi.

Sebagai anak patuh orangtua, kehidupan RG lumayan mapan. Tapi sayang, dalam urusan rumahtangga kurang beruntung. Istrinya meninggal muda, sehingga sejak 5 tahun lalu RG menyandang status duda. Dia sudah mencoba mencari istri pengganti, tapi belum juga dapat.

“Saya baru dapat istri baru, tapi setelah menikah dan berhubungan saya jadi nyerah sama gaya yang aneh-aneh itu,” katanya.

Sekali waktu cintanya nyangkut pada S, janda muda dari kota yang sama. Kenal beberapa bulan keduanya bersepakat membangun koalisi kenikmatan alias membentuk rumahtangga baru. “Pokoknya tahun 2018 harus ganti status,” kata RG menyemangati diri sendiri.

Sejak ada istri baru, malam hari RG tak lagi kesepian dan kedinginan. Sudah ada selimut hidup yang siap melayani segalanya. Tapi karena usia istri nyaris kepala 5, S tak menjamin bisa bisa punya anak lagi. Bagi RG itu nggak masalah. Tak bisa manak (melahirkan) ora opo opo, yang penting manuk (burung) terjamin.

Dan S memang bisa melayani sepuasnya. Seperti makan obat laiknya, dia siap melayani suami 7 kali seminggu sesendok makan. Karena usia belum oversek (lebih 50 tahun), RG oka-oke saja, karena memang masih rosa-rosa macam Mbah Marijan.

Tapi makin ke sini, gaya permainan ranjang istrinya makin aneh-aneh saja. Yang bikin RG merinding sekaligus jijik, S minta oral seks. Sebagai anak mama, tentu saja dia kaget, sebab dalam keluarganya, bahkan buku-buku agama yang dibacanya, tak pernah mengajarkan hal-hal semacam itu.

Karena S terus mendesak seks paradigma baru, RG jadi risih dan jijik. Argumentasinya, mulut kan tugasnya untuk ngomong dan makan, kok ini dipakai untuk hal-hal yang tidak profesional. Ketimbang jijik dan dosa, RG sewa pengacara untuk mengerus perceriannya, meski pernikahan baru sebulan.

“Kita saat ini sedang mengurus perceran klien saya, dan Klient saya bertekat untuk bercerai karena masalah pribadi,” ungkap Ahmad yang menjadi pengacara RG saat diwawancarai di Pengadilan Agama Surabaya

Anak mama, pukul 20.00 pasti sudah disuruh cuci kaki dan tidur. (Red/Gunarso TS)