HARIANMEMOKEPRI.COM — Hukuman Cambuk dilakukan jika ada yang melakukan pelanggaran syariat Islam di Aceh dan dilakukan oleh hakim Mahkamah Syar’iyah (MS).
Ada sepuluh pelanggaran yang diatur dalam Qanun Jinayat, mulai dari berjudi hingga berzina.
Ada tiga jenis hukuman yang dapat dijatuhkan bagi pelanggar, yakni Hukuman Cambuk, penjara, atau denda dengan hitungan emas.
Baca Juga: Enam Pasangan Bukan Suami Istri Terjerat Razia Pekat Seligi di Karimun
Hudud merupakan jenis hukuman yang bentuk dan besarannya telah ditentukan di dalam qanun secara tegas. Sebagaimana dikutip harianmemokepri.com di kanal Youtube No alone pada 24 Maret 2023.
Sedangkan Ta’zir adalah jenis ‘Uqubat yang telah ditentukan dalam qanun yang bentuknya bersifat pilihan dan besarannya dalam batas tertinggi dan atau terendah.
Berdasarkan pasal 3 ayat 2, pelanggaran yang diatur dalam qanun meliputi:
Baca Juga: Sempat Terjadi Kejar-kejaran,Seorang Buronan Pencurian Warung Kelontong dan Emas diringkus Polisi
1. Khamar (minum minuman yang memabukkan)
2. Maisir (berjudi)
3. Khalwat (berdua-duaan pria-wanita bukan muhrim di tempat sepi)
4. Ikhtilath (bercumbu dengan pasangan bukan muhrim)
5. Zina
6. Pelecehan seksual
7. Pemerkosaan
8. Qadzaf (menuduh seseorang berzina tanpa dapat mengajukan empat saksi)
9. Liwath (gay)
10. Musahaqah (lesbian).
Baca Juga: Dalam Sepekan, Polresta Tanjungpinang Ungkap 3 Orang Pelaku Persetubuhan Anak Dibawah Umur
Kesepuluh pelanggaran itu berpotensi membuat pelanggar dicambuk meski kadang hakim menjatuhi hukuman penjara. Untuk diketahui, satu kali cambuk setara dengan 30 hari penjara.
Selain hukuman pokok, hakim juga dapat menjatuhkan hukuman (ta’zir) tambahan bagi pelanggaran. Jenis hukuman tambahan diatur pada pasal 4 ayat 5 yakni:
a. pembinaan oleh negara;
b. Restitusi oleh orang tua/wali;
c. pengembalian kepada orang tua/wali; d. pemutusan perkawinan;
Baca Juga: Polresta Tanjungpinang Kembali Meringkus Pelaku Persetubuhan Anak Dibawah Umur
e. pencabutan izin dan pencabutan hak;
f. perampasan barang-barang tertentu;
g. kerja sosial.
Aturan dalam Qanun Jinayat ini tidak hanya berlaku bagi pelanggar dewasa saja. Pelanggar yang masih di bawah umur juga dapat dijerat dengan qanun sesuai tertuang dalam BAB VI tentang jarimah dan uqubah bagi anak-anak.
Lalu siapakah pelanggar yang dapat dijerat dengan Qanun Jinayat, apakah hanya orang Islam?
Pada pasal 5 dijelaskan ada empat kategori yang dapat dikenakan hukuman sesuai qanun. Bunyi lengkap pasal itu adalah:
Baca Juga: Polresta Tanjungpinang Kembali Meringkus Pelaku Persetubuhan Anak Dibawah Umur
Qanun ini berlaku untuk:
a. Setiap orang beragama Islam yang melakukan Jarimah di Aceh
b. Setiap orang beragama bukan Islam yang melakukan Jarimah di Aceh bersama-sama dengan orang Islam dan memilih serta menundukkan diri secara sukarela pada Hukum Jinayat
c. Setiap orang beragama bukan Islam yang melakukan perbuatan Jarimah di Aceh yang tidak diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) atau ketentuan pidana di luar KUHP, tetapi diatur dalam Qanun ini
d. Badan usaha yang menjalankan kegiatan usaha di Aceh.***

