HARIANMEMOKEPRI.COM – Upaya Sunardi mengembangkan budidaya kopi di Kabupaten Kepulauan Anambas mulai menunjukkan hasil.
Setelah menanam ribuan bibit sejak Agustus 2024, ia kini berhasil melakukan panen perdana di kebunnya yang berada di kawasan Genting, Desa Air Bini, Kamis (2/7/2026).
Meski hasil panen masih dalam jumlah terbatas, panen perdana tersebut menjadi tonggak awal berkembangnya budidaya kopi selama ini Sunardi rintis di lahan seluas 2,5 hektare.
Sunardi mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 4.000 batang kopi tumbuh di kebunnya.
Dari jumlah tersebut, sekitar 1.500 batang telah berbuah dan mulai memasuki masa panen, sementara 2.500 batang lainnya masih berbunga dan sebagian mulai menghasilkan buah.
Proses panen dilakukan secara bertahap karena buah kopi tidak matang dalam waktu yang bersamaan.
Pekan lalu dirinya hanya memperoleh sekitar dua ons buah kopi, sedangkan pada panen kali ini hasilnya meningkat menjadi sekitar setengah kilogram.
“Yang dipetik itu baru beberapa batang saja yang buahnya sudah matang. Buah yang masih hijau menunggu sampai masak. Panen kopi memang bertahap, tidak sekaligus,” kata Sunardi.
Meskipun produksi belum maksimal, minat pasar terhadap kopi hasil kebunnya mulai terlihat.
Ia mengaku telah menerima pesanan sekitar 30 kilogram dari pemasok lokal untuk memenuhi kebutuhan sejumlah kedai kopi di Tarempa.
Namun, permintaan tersebut belum dapat dipenuhi karena sebagian besar buah masih dalam proses pematangan.
Sunardi mengatakan, keputusannya menanam kopi berawal dari keinginan memanfaatkan peluang usaha di sektor perkebunan.
Dengan belajar secara mandiri dan melakukan berbagai percobaan, ia terus mengembangkan kebun hingga mencapai ribuan tanaman.
Perjalanan tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan. Di awal budidaya, tidak sedikit yang meragukan kopi dapat berkembang dengan baik di Anambas.
Namun, keraguan itu perlahan terjawab setelah tanaman yang ia rawat mulai menghasilkan buah.
Selain itu, Sunardi masih menghadapi kendala dalam pemeliharaan tanaman, terutama keterbatasan biaya untuk membeli pupuk dan obat pengendali hama semut.
Ia juga tengah mencari solusi atas serangan penyakit yang menyebabkan munculnya bintik hitam pada tanaman hingga beberapa batang mengering dan mati.
“Hingga sekarang saya masih mencari solusi. Saya masih belajar dan mencari cara mengatasinya. Mudah-mudahan sekitar tiga bulan lagi sudah bisa memetik setiap hari karena buah yang matang semakin banyak,” ujarnya.
Dengan semakin banyak tanaman yang memasuki masa produktif, Sunardi optimistis hasil panen akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan. Ia berharap produksi kopi dari kebunnya dapat memenuhi permintaan pasar lokal sekaligus membuka peluang berkembangnya komoditas kopi di Kabupaten Kepulauan Anambas.

