Meskipun produksi belum maksimal, minat pasar terhadap kopi hasil kebunnya mulai terlihat.
Ia mengaku telah menerima pesanan sekitar 30 kilogram dari pemasok lokal untuk memenuhi kebutuhan sejumlah kedai kopi di Tarempa.
Namun, permintaan tersebut belum dapat dipenuhi karena sebagian besar buah masih dalam proses pematangan.
Sunardi mengatakan, keputusannya menanam kopi berawal dari keinginan memanfaatkan peluang usaha di sektor perkebunan.
Dengan belajar secara mandiri dan melakukan berbagai percobaan, ia terus mengembangkan kebun hingga mencapai ribuan tanaman.
Perjalanan tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan. Di awal budidaya, tidak sedikit yang meragukan kopi dapat berkembang dengan baik di Anambas.
Namun, keraguan itu perlahan terjawab setelah tanaman yang ia rawat mulai menghasilkan buah.
Selain itu, Sunardi masih menghadapi kendala dalam pemeliharaan tanaman, terutama keterbatasan biaya untuk membeli pupuk dan obat pengendali hama semut.
Ia juga tengah mencari solusi atas serangan penyakit yang menyebabkan munculnya bintik hitam pada tanaman hingga beberapa batang mengering dan mati.

